Alunan Lagu Kehidupan

Posting by : Ongki sang jagoan blog on Minggu, 14 Februari 2010

By  :  Aeoyici

Sore – sore begini lalu lintas sudah mulai ramai, tapi untungnya Bandung masih menjadi temanku. Seperti sore- sore biasanya di hari Kamis, harus mengantar Rasti sahabatku tercinta ini latihan basket di sekolah.

“Ras, ntar pulang jam berapa?”, tanyaku sambil mengecek dasbor, mencari kaset Britney.

“Kalo gak ada event yah kayak biasanyalah. Eh… tahu gak tadi Bu Wulan kasih senyuman mautnya ke Rui?”, kikiknya. “Gila aja… Rui segila itu apa musti diperebutin segitunya”

“Yah… menurut aku sih emang Rui kan cool anaknya”

Sebelum membalas jawabanku, mobil Audiku sudah membelok ke sekolah tercinta ini. Lapangan basket sudah diduduki beberapa mavia gankster anak kelas tiga yang semakin ngebos saja. Aku, yah… tidak sepenting Rasti buat gabungan sama mereka.

Tapi hari itu selain teriakan dari cewek- cewek beringas ala rock n roll juga ada beberapa anak cowok basket. Setahuku hari ini anak cowok tidak ada latihan. Memang yang seperti ini nih yang selalu membuat aku ingin cepat balik. Matanya pada maut semua sih.

Bye, Rez”, Rasti langsung melejit ke lapangan basket. Aku memutar balik menuju bimbel.

 

^-^

Hari ini melelahkan. Lesnya tadi ternyata mengulang materi minggu lalu, karena materi molar masih agak rumit. Mau gak mau, butuh tetep butuh aku buka laptop. Hari ini Kak Raka belum on- line. Bisa mati lampu nih kalo 15 menit lagi tidak on- line, sekarang saja mata aku sudah tinggal 5 watt.

Cklik.

“Bun, bawain jus jerukku di bawah ya nanti kalo turun?”, teriakku malas- malasan. Aku pikir nanti setelah minum jus pasti agak fresh, tidak kucel seperti sekarang ini.

“Orangnya sudah disini kok masih ditunggu on- linenya”, suaranya lembut seperti kue brownies kesukaanku, dan pasti tidak ada duanya. “Ehm… ini juga sudah aku…”

Kata- katanya terpotong karena aku langsung melompat memeluknya.

“Whoops… sepertinya kamu terlalu bersemangat”, ujarnya menyelamatkan jus jeruk yang dibawa. “What’s up baby?”, sekali lagi dengan suara yang ceria tapi tetap ramah.

Now??I’m very great. Look at you…”, berlagak membersihkan kemejanya. “Ngapain Mas disini??”, tanyaku masih dengan senyum selebar senyumnya Mas Tukul.

Dengan cengar- cengir, “Ya ini aku bawain jus jeruk dimeja. Kata Mbok Nah punya kamu. Sekalian ngecek kamu lagi on line apa gak”

“Ngapain di Bandung??”, tanyaku tidak sabaran.

“Mau ngusir Non?”, tanyanya berlagak jutek. Aku tersenyum simpul. “Ya nggak lah. Kangen banget…”, aku mulai merajuk.

Akhirnya, setelah dua tahun minggat ke negerinya Pak Lek SAMidi sekarang balik juga. Kakak sepupuku yang paling aku sayangi dan aku banggakan. Kayak bunyinya pembukaan pidato saja.

“Gimana New Jersey?”, tanyaku sambil menyeruput jus jerukku. “Kok pulangnya cepet banget?mana gak kasih kabar lagi. Aku kan bisa jemput”.

“Yah… kemarin itu gak ada planing buat pulang. Om Marcel dateng kesana terus sekalian ngajak pulang. Ya aku ikut”, masih sibuk meneliti isi kamarku. “Jadi gimana sekolah?masih Djawa?”

“Kok tahu?”

“Kakak yang baik hati dan tidak sombong plus tidak ada duanya like me ini ya pasti tahu dong perkembangan his sweet cat”, kali ini mulai membuka- buka koleksi novelku.

“Preeeett……”, aku cuma nyengir. “informannya akurat nih?”

“Yaiyalah masa yaiya dong. Mulan saja Jameela masa Jamidong”, dia tertawa nyengir, aduh manisnya kakak tercintaku ini. “Tadi dikasih tahu guyonan lucu sama Mang Rahmat”.

Begitulah Kak Rakaku, dia satu- satunya orang yang aku cintai yang membuat aku tetap waras. Sering sekali aku menyukai seseorang jadi hilang akal sehat, weits…. Jangan keburu negatif thinking dulu. Maksudnya, aku terlalu memujanya, misalnya dengan Djawa. Bisa gila orang kalau melihat tingkahku.

“Pagi- pagi ngelamun aja”, Denis menubruk punggungku dengan asal saja. “Pr segudang gini masih sempat mikirin gue. Jangan seru- seru napa?”, seperti biasanya ekspresinya menampilkan ala band ‘70an. Gayanya kocak dan apa adanya sekali. Aku hanya menjitak kepalanya lalu beranjak mencari sumber Pr yang akurat, yah siapa lagi kalau bukan Melan, Miss Perfeksionisku.

“Hai…hai….udah selesei?”, tanpa menunggu jawabannya langsung ku comot pekerjaannya. “Rui kenapa sih?”, tanya Melan sambil memasang head set.

Aku hanya mengangkat bahu. “Napa emang?”, tanyaku tanpa menggubrisnya, maklum kalau salah menulis tanda implikasi jadi biimplikasi pada Pr Matematikaku bisa ruwet juga. “Tahu deh, dari tadi ngelihatin aku mulu. Emang aku salah pake bandana pink gini. Ngejrenk ya?”, tanyanya serius. “Eh, aku kok gak lihat kamu bawa helm”, tanyanya lagi.

“Dianter”, jawabku singkat. “Siapa?”. “Kak Raka”.

Sebenarnya nadaku juga tidak tinggi- tinggi amat tapi efeknya banyak orang tertarik seperti magnet mendekatiku. Rasti yang sibuk melihat jadwal basketnya kontan melonjak ke arahku dan Aya yang sedari tadi seperti orang linglung tidak tahu memikirkan apa mendongak ke arahku.

Whatz… Kak Raka?? Dateng ke Bandung??? Kapan???”, teriak Melan sampai- sampai Rui melirik dari pembicaraannya yang seru dengan Mario. Akhirnya pagi itu para kaum hawa yang kekurangan suplai cowok mengintrogasi aku sampai kenyang. Untung saja Pak Juan cepat datang, dan berakhir sudah senam mulutku pagi itu.

Panas- panas begini Kak Raka belum juga nongol, batinku dongkol.

“Hey…”, suaranya begitu tenang. Menghanyutkan rasa lelah dan penat yang ada. Memberi tenaga dalam setiap gelora alunan nadanya. Aku langsung berpaling melihatnya.

Ya ampun itu Djawa, suara Djawa, teriakku histeris di dalam hati.

“Nunggu siapa?”, dunia runtuh kalau untuk yang ketiga kalinya dia nanyain aku lagi. “Kak Raka”, polos, jujur dan apa adanya aku menjawab.

“Gak dateng, lagi body kit Toyota crownnya di Lancer. Aku yang antar”, suaranya penuh dengan kemantapan dan kesejukan. “Oh ya…Djawa Raditya”

Tuhan, dunia ini benar- benar terbalik rasanya. Tangan yang selama ini aku lihatin mau kenalan sama aku.

“Rezika, temen aku panggilnya Irez”, aku meraih tangan malaikat itu. Pasti ketahuan kalau lagi deg- degannya, tanganku dingin sekali. “Nunggu apa lagi?ayo naik”, dia menawarkan helm. Motor balapnya melaju didepan, bahkan aku sempat melihat Melan dengan ekspresi melongo saat melihatku.

Gila…gila dan gila…kemarin malam aku mimpi apa kok bisa dapat duren runtuh gak berhenti- berhenti kayak gini. Djawa obsesiku dari kelas satu SMA sampai sekarang kelas dua. Dia asli dari solo, pindah waktu aku pertengahan kelas satu, dia kelas dua. Dia drumer dari grup band etc(etcetera) dan pintar pelajaran Fisika, pelajaran paling nggak banget buat aku. Badannya cukup sama dengan temannya, tapi kulitnya bersih putih, matanya berbinar dan paling penting dan utama dia cuek membuatnya lain dari yang lain.

 

^-^

“Hai…hai…gimana punya kabar nih”, Rasti, Aya dan Melan memberondongku. Masuk rumah gak pencet bel maen nyelonong saja. “Mana Kak Raka”, kali ini sedikit berbisik Aya menanyakannya.

Aku menunjuk ke arah belakang dan mereka langsung menggaetku ke arah jariku tadi. “Eh…nanti saja masih ada…”, kalimatku belum selesai.

Kami berhenti di depan beranda. Aku melihat mulut mereka sedikit terbuka dengan tatapan mata yang shock, entah karena melihat ada Djawa atau karena sudah lama tidak melihat Kak Raka. Aku benar- benar malu dengan Djawa, dipikirnya nanti aku cari- cari perhatian.

“Oh…ada temannya Kak Raka, sorry ganggu…tadi cuma mau ketemu Kak Raka sudah lama gak ke Bandung”, ucap Melan yang sadar akan krisis PD disini. “Ya sudah kita masuk dulu ya Kak, kita masih mau ngobrol dulu”

“Ngobrol bareng disini juga gak apa- apa?”, kali ini Djawa menatap ke arahku. Please jangan menatapku seperti itu, seolah menyalahkanku kenapa kurcaci ini mengganggunya. Tiga kroniku sudah kabur kalang kabut masuk kamarku. Aku berbalik tapi masih sempat mendengar perkataan Kak Raka tentang kapasitor yang akan dipasang sebagai tambahan audio dimobilnya.

“Djawa??”, belum pernah aku melihat Melan sehisteris ini. “Sudah jadian??”, tatapannya kali ini membunuh.

Aku hanya menggelengkan kepala. “Sepertinya temenan sama Kak Raka”, singkat aku menjawab. Akhirnya kita malah asyik menggosip ria dan Djawapun terlupakan. “Denger- denger Rui bakal dapat nilai 9 untuk pelajaran Kimianya Bu Wulan”, Aya mulai berkomentar.

“Oh ya, kalau menurutku Rui hanya tertarik dengan Melan”, seruku sambil memutar lagu lama Spice Girl, Wannabe. Melan memelototiku seolah- olah ingin berkata apa maksudmu. “Apa sih kurangnya Rui, sudah anaknya ramah, manis, baik, pintar lagi. Jadi orang jangan dingin terus sama cowok, pamali”

Menjelang malam anak- anak bersiap pulang. “Bye, Kak Raka”, mata Aya gak berpaling dari Kak Raka, baru setelah tertabrak pintu dia mau pulang. “Kapan- kapan main ke rumahku ya Kak?”, Rasti lebih berani. Dan Melan hanya mengucapkan selamat malam. Setelah anak- anak pulang aku langsung memberondong Kak Raka dengan berbagai macam pertanyaan tentang Djawa.

Akhirnya Kak Raka cerita panjang lebar kalau kakaknya Djawa temannya di Amerika, Kak Raka bertemu saat tour pelajar di salah satu universitas di Minnesotta. Selain chatting denganku Kak Raka juga chatting dengan Djawa karena mereka punya hobi yanga sama, modif otomotif. “Sekalian deketin kamu ke Djawa”, tambahnya.

Sejak hari itu, setiap hari Djawa main ke rumahku, tidak pernah absen lagi. Senang sekali, tapi sempat gontok juga kalau biasanya Kak Raka mengajak aku jalan- jalan sekarang malah asyik debat sama Djawa. Misalnya saja sabtu lalu aku dijemput Kak Raka dan Djawa juga ikut satu mobil denganku, bukannya senang ada di dekat Djawa tapi malah di cuekin. Atau minggunya nonton pameran otomotif ke Jakarta di kawasan Kemang, sepanjang jalan sampai disana juga tetap nyerocos soal modifikasi. Mending tidur dirumah saja enak.

Hari ini juga Kak Raka pergi, pasti sama Djawa lagi. Sebel!!

Lampu Hpku menyala, tidak ada nomor. Siapa lagi sih, gerutuku jengkel.

“Halo”, suaraku tampak malas. “Besok ada acara gak?”, Djawa Raditya nelpon aku!!kok tahu nomor aku dari siapa?dia mau nelpon aku.

“Kayake gak ada. Ada apa?”, kali ini aku lebih bersemangat. Kali saja mau diajak ngedate. Hehehe… “Besok jam 8 aku ke rumah kamu, bilang ke Raka”

Ya hanya seperti itu saja dia telpon. Senang juga tapi ada sebelnya, kalau mau ada perlu dengan Kak Raka kenapa sih gak langsung saja. Malamnya saat Kak Raka pulang aku masih sebel, aku tidak bilang kalau Djawa besok kesini.

“Rez, bangun. Ditunggu temanmu di depan itu lho”, teriak Om Marcel dari luar kamar. Om Marcel memang kebiasaan bangun pagi, tidak hari kerja tidak hari libur bangun jam 5, berbeda dengan ayah, aku masih ingat waktu kecil dulu kita selalu bangun jam 9 kalau hari minggu. Tapi buatku itu tidak masalah, Om Marcel dan ayah sama- sama baik untuk bunda, jadi aku nyantai saja.

“Djawa, Om Marcel pasti salah bangunin aku deh”, aku bermaksud kembali ke kamarku. “Salah gimana? Kemarin aku kan sudah telpon kamu mau ngajak jalan”, dia menarikku kembali. Kalimat seperti ini lebih efektif untuk membangunkanku.

“Lho bukannya kamu mau pergi dengan Kak Raka?”, mataku benar- benar terbelalak. “Aku kan cuma minta kamu ijin ke Raka. Ya sudah sekarang cepat mandi”

Dua puluh menit dandan kilat dengan celana pendek diatas lutut dan kaos joger kebesaran yang hampir menyamai celana dibalut dengan sweter putih kecil dan sepatu kets. Perjalanannya jauh sepertinya akan ke bogor, ternyata belum sampai keluar kota tepat di dekat perbatasan ada sebuah tempat rekreasi taman Stroberi.

Sebelum masuk, Djawa membelikanku es krim stroberi dalam ukuran besar. Di dalam tidak seperti yang aku bayangkan seluas mata memandang akan ada stroberi, tetapi lapangan luas yang diisi dengan permainan out bond, misalnya panjat dinding, terbang layang dan ada juga permainan lain seperti roller coaster dan drop zone. Kami mencoba semua out bond dan cukup berani untuk lompat dari ketinggian 5 meter dengan tali pengikat di pinggang. Setelah puas dengan berbagai uji mental, masih juga naik roller coaster yang parahnya lagi kami mendapatkan bagian di depan. Saat itu hal yang aku gak pernah pikirkan terjadi.

“Rez…love you”, teriak Djawa saat kereta meluncur turun. Dia menggenggam tanganku. Brakk!!aku panik, sudah ini jantung deg- degan naik roller coaster ditambah dengan ucapan Djawa. “Jawab dong”, dia berteriak lagi. “Love you Djawa”, aku sedikit gemetar.

Turun dari roller coaster, orang- orang melihat ke arah kami, tapi kami cuek. Sebelum pulang kami makan siang dulu dengan menu semuanya stroberi dan tidak lupa beli stroberi buat Kak Raka. Wah hari ini aku senang sekali.

 

^-^

Sampai dirumah malah tidak ada orang, aku memasukkan stroberi ke kulkas. Melihat ada pesan yang dilekatkan didepan kulkas, aku langsung membacanya

Bunda dengan Om Marcel ke rumah eyang di Bogor. Eyang sakit mendadak, nanti makan diluar saja dengan Raka. Uangnya diatas kulkas.

Mana Kak Raka keluar juga, BT deh. Belum sempat aku beranjak ke kamar, Hpku berbunyi. Kak Raka memanggil.

“Aku tunggu di Kafe Dago sekarang, naik taksi saja. Sorry gak bisa jemput. Nanti aku kenalin seseorang”, singkat, padat dan jelas ucapannya. Belum juga aku istirahat langsung tancap gas ke kawasan Ndago, ramai lagi ramai lagi. Maklum ini kan jam lima sore, minggu lagi.

Disana Kak Raka sudah menunggu dengan seorang cewek Indo dari kejauhan. Ternyata namanya Brecelle Brenet, asli dari Jerman, pacarnya di New Jersey dan baru kemarin sampai. Makanya hari- hari ini Kak Raka jarang dirumah, sering ngajak muter- muter ceweknya sih.

“Meint name ist Brenet”, dia menjabat tanganku dengan resmi. Aku mana ngerti kalau dia ngomong Jerman begituan. Akhirnya setelah selesai makan aku pulang dulu, mana betah jadi baygonnya orang pacaran.

Minggu ini penuh dengan surprise, dari Djawa banyak banget. Setiap hari aku dijemput, akhir pekan kita jalan bareng sekedar viting makanan di kawasan Paris pan Java atau kalau nggak gitu dirumahku main gitar atau nemenin dia saat ada event buat manggung di mall. Ternyata seperti ini ya enaknya pacaran, kalau mau ulangan Fisika ada guru privatnya sekarang. Pelajaran apapun menyenangkan karena hati lagi senang, sekolah juga tidak malas lagi.

Sampai akhirnya beberapa minggu kesenangan itu, Kak Raka menungguku dikamar sepulang keluar dengan Djawa.

“Tumben,ada apa?”, tanyaku sambil meletakkan tas ke meja. “Besok balik”, ucapannya singkat masih menatap hujan yang mulai turun terlihat dari jendela kamarku.

“Cepet banget?’, tanpa aku mau suaraku meninggi. “Brecelle ngajak pulang?”, tanyaku panas. Dia menggeleng lemah. “Masa liburku kan sudah habis, lagi pula kan gak mungkin aku disini terus my sweet cat?”, mencoba membujukku.

“Kenapa sih?kita kan belum sering jalan bareng, dikit- dikit Brecelle belum lagi kalau keluar malem gak balik. Kapan ada waktu buat aku? Dulu kayaknya gak gitu!Dan besok balik. Mending gak usah ke Bandung saja”, aku sudah benar- benar marah sekarang.

“Oh jadi cuma aku yang pentingin diri sendiri, apa pernah aku kasih kritik kalau tiap hari kamu jalan dengan Djawa?siapa yang ngedeketin kamu ke Djawa?”, kali ini Kak Raka mulai tersinggung. “Sudahlah Dek, sorry Kakak jadi ikut emosi. Kan masih ada waktu banyak, nantinya kakak juga bakal tinggal di Indonesia. Sekarang bobok bareng saja yuk?jadi inget dulu waktu aku mau pergi kamu juga marah- marah gini”, senyumnya benar- benar bisa mencairkan suasana kayak gini.

Paginya semua barang sudah dipak dan siap berangkat, sebelum itu menyempatkan makan bersama dulu.

“Maafin bunda ya Ka?hari- hari ini bunda terlalu sibuk ngurusin butik jadi kurang perhatian”, ucap bunda sambil menyendokkan nasi goreng ke Kak Raka. Kak Raka hanya tersenyum kecil.

Di bandara tidak usah diceritakan karena aku yang paling menyebalkan, menggelayuti kakakku sampai bunda menggertakku agar melepaskan tanganku dari jaketnya. Sampai rumah aku mengunci diri di kamar Kak Raka. Aku kecewa dengan diriku sendiri yang egois, dulu setiap Kak Raka kesini aku selalu gak bisa dipisahin kemana- mana berdua, bahkan ke toilet saja bisa- bisa berdua. Tapi kepulangannya kali ini aku malah sibuk dengan Djawa, sibuk dengan kesenanganku sendiri.

Bangun dari tidur tahu- tahu jam 7 malam dengan air mata yang masih lengket dipipiku. Melirik ke meja yang penuh dengan miniatur mobil aston villa terselip sepucuk surat.

Sorry, my sweety cat, aku cepet- cepet pulang. Tapi emang kedatanganku buat cari’in kamu pacar, jadinya kamu gak marah saat aku kenalin Brenet ke kamu. Aku takut kamu bakal jelous. Aku harap bakal lama dengan Djawa, aku tunggu dua tahun lagi kedatanganmu di New Jersey.

Memang Kak Raka yang tahu aku. Apa mau aku, apa yang aku pikiran, segalanya tentang aku. Tapi dia tidak tahu kalau aku tidak mau ke New Jersey.

 

^-^

1 tahun kemudian…

Aku masih dengan Djawa. Sama seperti saat pertama kali jadian, tetap sayang. Besok adalah tahun kelulusannya aku sedikit ketar- ketir akan kelanjutan hubungan kita. Tapi Djawa selalu bilang ke aku bahwa inti dari mencintai adalah menjaga, menjaga kepercayaan bersama orang lain, baik itu dengan keluarga ataupun dengan teman. Djawa ingin melanjutkan kuliah di UI karena kakaknya juga bekerja di Jakarta mengambil jurusan tekhnik otomotif.

Seminggu kemudian Djawa pindah ke Jakarta, sendiri lagi.

Awalnya memang baik- baik saja. Setiap malam suka on line. Tetapi saat mulai semester I dan dia jadi banyak tugas dan lain- lainnya itu membuat jarak yang jauh semakin jauh. Enam bulan terasa sudah puluhan tahun saja.

“Rez, tadi pagi lihat infotainment nggak?”, teriak Aya dari luar kelas berlari menuju ke arahku. “Tadi Rez, Djawa kamu jalan sama Adea cewek Indo timur tengah yang lagi santer- santernya main film”

Aya’ aya’ wae kamu tuh”, aku hanya tersenyum simpul. “sudah sarapan belum?yuk ke kantin”, ajakku bersama Melan dan Rasti.

“Rezika Amadea bego!!bodo’!!”, kali ini Aya berteriak serasa ada di Gelora Bung Karno saja. “Rez, aku tadi pagi lihat dengan mata kaki tangan plus kepala lengkap dengan baju kalau Adea ketahuan jalan bareng disebuah mall bareng Djawa. Cowok itu Djawa”

Aku bisa mati ketawa melihat ekspresi Aya saat ini. Memang kadang- kadang dia suka kebablasan, tidak bisa membedakan antara mimpi dan dunia nyata. Tapi aku juga ada ketar- ketir, apalagi kita sudah lama agak miss komunikasi. Pulang sekolah semuanya menjadi jelas, Denis memberiku tabloid yang terbit edisi hari ini dan dalam pojok kiri terdapat berita kecil dan foto Adea bersama cowok yang sedang menggandeng tangannya, yang tidak lain tidak bukan adalah Djawa.

 

^-^

Sejak putus dengan Djawa aku belum ada yang baru, masih tetap bareng dengan Melan, Rasti dan Aya. Kadang- kadang minggu pagi Denis datang ke rumah mengajakku lari pagi. Atau kalau sedang menang basket di traktir makan. Denis memang baik anaknya.

“Rez, Kak Raka kapan pulang sih aku kangen nih?”, tanya Rasti sambil mendrible bolanya di lapangan. Aku hanya menggeleng. “Males ngomongin Kak Raka. Paling- paling pulang bawa Brenet lagi, belum lagi bahasanya yang dari Planet pluto itu aku kagak ngerti. Aya’ aya’ wae si Brenett itu”, jawabku melihat kedatangan Denis yang sedang memarkir Suzuki Swiftnya.

“Brenett?siapa?”, tanya Melan dan Rasti. “Masa aku belum cerita tentang pacarnya Kak Raka yang dari Jerman itu?”, keluhku. Mereka hanya menggeleng pasrah. Pasrah karena idolanya, idola kita sudah punya pacar. “Brenett siapanya Kak Raka sih Rez?”, tanya Aya yang masih belum ngerti. “Pulang saja yuk”, ajakku.

Denis berlari kecil ke arahku. “Rez, kok sudah pulang?besok jam 8 aku ajak jalan ya? Bye”, cepat dan tanpa menunggu jawabanku. Oh ya, sudah tiga bulan ini Melan jadian dengan Rui, penembakannya saat ada pensi tahunan di sekolah dan Rui menjadi vokalis band. Aku yang sedang patah hati jadi iri melihatnya.

Besoknya Denis datang dengan motor paling butut yang pernah aku lihat. Jalannya saja paling banter juga 40km/jam. Dia mengajakku keliling Bandung, melihat pameran celana jeans impor dari beberapa perancang luar negeri di Paris pan Java, mendengarkan pemain biola jalanan di Dago sambil duduk makan es krim. Denis memang teman yang baik dan mengerti aku. Mengerti juga bahwa sebenarnya aku masih suka dengan Djawa. Dia selalu memberi support aku untuk melupakan hal yang buruk. Hingga kelulusanku tiba dan keberangkatanku ke Perancis mengambil jurusan Desain Grafis. Denis orang kedua yang menangis saat kepergianku, selain bunda.

 

^-^

Pagi yang cerah di saat musim dingin seperti ini langka sekali. Hampir setiap pagi dimusim dingin, salju menumpuk di depan rumah adalah pemandangan harian. Tapi hari ini tidak ada lagi tumpukan salju dan udara yang seperti di dalam fresher ikan. Walaupun udara tidak sehangat musim panas, tapi baik juga untuk mengawali setumpuk kegiatanku yang membosankan.

Setelah mengenakan tank top putih yang dibalut dengan jaket tuxedo dan tidak lupa dengan jeans hipster yang ketat karena badanku yang kurus tinggi, aku menggaet sepatu kets yang kubeli waktu aku pertama kali masuk universitas ( 2 tahun yang lalu ). Sambil makan Tortilla panggang aku mengenakan sepatu bututku.

“Buat kuliahnya Mr.George disuruh membuat makalah tentang Statistik, beres. Buat Mr. Khmer tentang aritmatikanya, beres. Hasil lemburku tadi malam, beres”, telitiku.

Pagi ini aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Rugi sekali tidak memanfaatkan cuaca secerah hari ini. Biasanya aku lebih memilih naik bus atau memakai sepatu roda. Dengan jalan kaki aku bisa menikmati udara segar dan kebetulan ini masih cukup pagi daripada biasanya aku berangkat. Aku juga bisa mengecek makalah-makalah dan tugasku untuk beberapa mata kuliahku hari ini sambil jalan kaki.

“ Mr. Tang…..apa kabar ? Pagi sekali kedainya sudah buka”, sapaku.

“Irez…..mampir dulu kesini….masih pagi”, sapa Mr Tang sambil menata kursi.

“ Pulang nanti sajalah…saya ada kuliah pagi ini”, jawabku singkat.

Mr. Tang adalah tetangga sebelahku. Dia menjual mie dan setiap sore aku pasti makan mienya. Kadang aku sendiri merasa bosan, tapi aku juga malas untuk mencari makan di tempat lain. Karena daerah ini jarang ada kedai atau warung yang menjual makanan.

Setiap pagi makan tortilla panggang dan segelas susu. Siangnya makan di kantor tempat aku bekerja dengan nasi kotak. Dan malamnya makan mie di kedai Mr. Tang. Dan jadwalku selalu sama, tetapi akhir-akhir ini aku membantu istri Mr. Tang untuk merangkai bunga. Kadang aku juga mengantarkan ke toko bunga.

Saat awal mulai aku bekerja, semester ke 2 aku di Paris. Aku bekerja paruh waktu di perusahaan jam tangan. Hidup itu sulit kalau dipikirkan hari ini, tetapi kalau ingat- ingat yang kemarin itu menyenangkan. Saat menyenangkan saat masih bisa bermain – main dengan Melan, Rasti dan Aya. Denis yang baik. Dan juga Djawa yang selalu membuat aku senam jantung saat melihatnya, meski pada akhirnya menyakitiku. Aku menyukainya. Nantinya kalau aku sudah tua dan menjadi nenek- nenek bersama seorang lelaki biasa, duduk di beranda dengan rumah gaya Solo, memakai batik dan kebaya, mengingat saat- saat di Paris adalah sejuta kenangan sambil makan pisang goreng. Ehm... entah nantinya cinta ini milik siapa??

 

____selesai____

{ 1 Coment... read them below or add one }

ikeeshaibanez mengatakan...

Harrah's Cherokee Casino Resort - Mapyro
Harrah's Cherokee Casino Resort features deluxe accommodations, fine 용인 출장샵 dining, a wide variety of entertainment attractions and shopping.Distance to 하남 출장샵 airport: 전주 출장마사지 5.6 kmValue for money: 8.3Nearest 의정부 출장샵 airport: Atlanta Rating: 3.9 · ‎15 votes 계룡 출장샵

Posting Komentar