Tampilkan postingan dengan label Religy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religy. Tampilkan semua postingan

Solusi Pemanasan Global Menurut Islam

Posting by : Ongki sang jagoan blog on Minggu, 10 Januari 2010

 

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Ruum : 41) 

Ayat Allah tersebut menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi di darat dan di laut karena aktifitas manusia yang tidak mengikuti jalan yang benar (syariat Allah). Akibatnya, musibah akan senantiasa mengancam kehidupan manusia. Oleh karena itu, penerapan syariat Allah merupakan satu-satunya jalan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang telah terjadi. Sedangkan syariat Allah hanya bisa diterapkan apabila ada institusi yang menerapkannya.

Khilafah adalah institusi satu-satunya yang akan menerapkan syariat Allah di muka bumi. Penerapan syariat yang sesuai kehendak Allah sebagai pemilik bumi dan seisinya tentu akan mampu memberikan dampak positif pada keseimbangan alam. Karena itu, sudah menjadi kewajiban khalifah sebagai pemegang amanah dari Allah untuk selalu berusaha menjaga keseimbangan alam dan menghilangkan segala bentuk kemudharatan atau bahaya yang akan menimpa seluruh kehidupan karena akibat aktifitas manusia.

Amanah  ini didasarkan pada sabda Rasul SAW :

“Imam adalah ibarat penggembala dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap gembalaannya (rakyatnya).” (HR. Muslim)

Kaidah fikih menyebutkan :

“Tasharruf al-Imaam ‘alaa al-ra’iyyah manuuthun bi al-maslahah.” (Kebijakan Imam/Khalifah dalam mengatur rakyatnya berpatokan pada asas kemaslahatan) (Lihat Imam Suyuthi, al-Asybah wa an-Nazha`ir fi Al-Furu’).

Kaidah fikih menyatakan, “Adh-dlarar yuzal” (segala bentuk kemudharatan atau bahaya itu wajib dihilangkan). Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW  “Laa dharara wa laa dhiraara.”  Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun membahayakan orang lain (HR Ahmad & Ibn Majah).

Oleh karena itu sebagai upaya menjaga keseimbangan alam, maka Khalifah wajib menetapkan kebijakan untuk kemaslahatan umum dalam mengatasi pemanasan global, sebagai berikut :

A.  Memperbanyak tanaman untuk menyerap gas rumah kaca yang berlebih, dengan cara :

  1. Menjaga dan mengelola hutan sesuai syariah
  2. Menjaga keseimbangan antara tingkat polusi dan RTH (Ruang Terbuka Hijau) di setiap wilayah.
  3. Mewajibkan rakyat menjaga lingkungan masing-masing.
  4. Menghidupkan tanah-tanah mati.
  5. Mengambil alih tanah-tanah yang tidak dikelola selama tiga tahun dan memberikan kepada orang lain untuk mengelolanya.

B.  Mengurangi emisi gas karbon dari industri, transportasi, dan eksplorasi sumber daya alam

  1. Mengadopsi sains dan tehnologi yang bisa menjaga kelestarian lingkungan
  2. Menciptakan mesin-mesin industri dan transportasi yang ramah lingkungan, termasuk menyediakan sistem transportasi yang baik
  3. Memberi subsidi untuk konversi bahan bakar industri yang ramah lingkungan
  4. Mendorong penelitian dan pengembangan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan
  5. Menetapkan metode yang ramah lingkungan untuk eksplorasi, misalnya metode carbon sequestration.

C.  Menyiapkan SDM peduli lingkungan dan undang-undangnya

  1. Memberikan pendidikan kelestarian lingkungan kepada rakyat baik melalui jalur formal maupun non formal.
  2. Menyiapkan dan menyebar para qodli hisbah dan polisi
  3. Membuat undang-undang kelestarian lingkungan hidup

D.  Melakukan dakwah dan jihad

Dakwah dan jihad merupakan sarana agar Khilafah memimpin dunia dengan Islam, sehingga menjadi rahmat bagi seluruh alam, yang akibatnya keseimbangan alam bisa terjaga secara menyeluruh (global)

Begitu pentingnya kehadiran khilafah untuk menyelamatkan manusia dan lingkungannya, maka wilayah kekuasaan khilafah harus meliputi seluruh dunia. Karena tentu tidak ada artinya apabila kebijakan yang berwawasan lingkungan tersebut hanya diterapkan di sebagian wilayah di dunia, sedangkan sebagian yang lain mengabaikannya. Dengan kondisi tersebut keseimbangan alam tidak akan tercapai secara maksimal, yang berarti masih ada potensi kerusakan dan ketidak seimbangan alam yang bisa menyebabkan musibah bagi manusia. Jadi, khilafah memang harus memimpin dunia dengan Islam, sehingga keseimbangan alam terjaga sepenuhnya untuk menyelamatkan seluruh kehidupan dari musibah.

 

·KESIMPULAN

  1. Pemanasan Global telah mengancam kehidupan manusia, tumbuhan dan hewan
  2. Pemanasan Global merupakan dampak negatif dari aktifitas manusia yang tidak diatur berdasarkan syariat Allah
  3. Kapitalisme yang mendasari aktifitas manusia tersebut telah terbukti merusak keseimbangan alam dan tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut.
  4. Khilafah adalah institusi satu-satunya harapan seluruh manusia yang akan mampu mengatasi pemanasan global dan menyelamatkan  kehidupan seluruhnya.
More about → Solusi Pemanasan Global Menurut Islam

Pengertian dan macam – macam Kultur

Posting by : Ongki sang jagoan blog on Jumat, 08 Januari 2010

 

Kemampuan orang untuk berinisiatif berbeda-beda. Hakekat inisiatif lebih dekat untuk disebut sebagai sebuah "keahlian", tapi berbasiskan pengetahuan. Namun, bukan berarti hanya orang-orang tertentu yang bisa memacu inisiatif. Tidak. Semua orang bisa meningkatkan daya inisatif untuk beramal shalih, sesuai kadar peegetahuan dan kemampuannya. Karenanya, memahami hal-hal yang bisa mempengaruhi – baik positif atau negatif – daya inisiatif sangatlah penting. Kemampuan dan keahlian adalah pengaruh internal. Sedang pengaruh luarnya adalah kultur atau budaya yang mengitari seseorang. Kultur dimaksud banyak, antara lain :

  • Kultur sosial

Maksudnya, iklim atau budaya yang lahir dari proses interaksi seseorang dengan orang lain. Atau bergaulnya seseorang dengan orang lain, dalam lingkup kecil maupun besar. Dengan anggota keluarga, dengan teman kerja, teman belajar, dengan sesama aktivis da’wah, maupun dalam lingkup lebih luas yaitu masyarakat. Kultur sosial punya dampak pada tingkat kemampuan orang untuk berinisiatif, karena manusia punya tabiat “saling terpengaruh dan mempengaruhi”. Pada umumnya anak-anak muda pecandu narkoba, memulai inisiatif buruknya itu karena ajakan teman. Hal yang sama juga terjadi pada kebiasaan merokok mereka. Mulanya diajak dan ikut-ikutan teman.

Anak-anak yang hidup nyaman dan serba berkecukupan sejak kecil, yang segala keperluannya siap sedia, dan tidak dikenalkan Islam secara baik, umumnya punya daya inisiatif beramal lebih kecil dari anak-anak yang lahir dalam keadaan susah, harus membantu mencari nafkah, hidup serba kekurangan, dan diajarkan norma-norma Islam. Karenanya, Rasulullah menasehati umatnya agar sekali-kali latihan hidup susah, “Ikhsyausyinu, fainnanni’mata la tadumu.” Bersusah-susahlah, karena sesungguhnya nikmat Allah itu tidak selamanya (bersama kita).

Setiap muslim, apalagi para aktivis da’wah harus pandai menyiasati kultur sosialnya. Kita mesti tahu dengan siapa harus berteman. Tapi kita juga harus pandai menjaga persaudaraan dengan orang-orang baik yang menjadi mitra sosial kita, sesama muslim, maupun sesama da’i. Dari sana konsep ukhuwah menjadi ladang penggalian inisiatif yang tak pernah kering. Maka jangan heran, bila ada salafussalih yang mengatakan, “ikhwani ahabbu ilaiyya min ahlii.” Maksudnya, ikhwah, saudara-saudara seiman saya, kadang lebih aku cintai dari keluargaku sendiri. Ia memberi alasan, “lianna ikhwan Yudzakkiruni bil akhirah, wa ahli yudzakkiruni bid-dunya.” Sebab, menurutnya, “ikhwah saya mengingatkan saya tentang akhirat, sedang keluarga saya mengingatkan saya tentang dunia.”

Teman adalah cermin dari wajah perilaku kita sendiri. Jangan sampai kultur sosial itu merusak kemampuan inisiatif untuk beramal. Proses saling mempengaruhi itu lambat atau cepat pasti terjadi. Tergantung siapa yang lebih kuat. Rasulullah menegaskan, "Seseorang itu tergantung bagaimana agama temannya." (HR. Tirmidzi).

  • Kultur organisasi

Bila orang bergabung dalam sebuah organsisai, termasuk organisasi da’wah, ia akan memasuki kultur yang ada dalam organisasi tersebut. Tidak saja itu, ia dituntut untuk mentaati kultur yang ada. Ada organisasi politik, organisasi profesi, organisasi sosial, dan lain sebagainya. Masing-masing punya kultur berbeda. Organisasi da’wah pun demikian, ada organisasi kader da’wah, ada juga yang sebatas organisasi simpatisan da’wah.

Salah satu budaya umum yang dikenal dalam berorganisasi adalah soal lahirnya kebijakan. Pola yang biasa dikenal adalah "dari atas ke bawah" (top-down), dan sebaliknya, dan bawah ke atas (buttom-up). Sejauh mana dua pola ini dominan, sejauh itu pengaruhnya terhadap daya inisiatif dalam berorganisasi itu. Karenanya, dalam sebuah organisasi (jama’ah) da’wah, setiap muslim yang bergabung di dalamnya, harus pandai mengasah inisiatif beramalnya. Jangan selalu menunggu komando, tapi juga jangan kelewat agresif. Pelajari dan pahami rambu-rambu organisasi da’wah yang ada, lalu berprestasilah semaksimal mungkin, ada atau tidak ada perintah, dalam lingkup rambu-rambu itu.

Barangkali, untuk memicu semangat inisiatif beramal shalih dalam sebuah organisasi, bisa meminjam teori Mc. Waber. Ia membuat dua parameter untuk mengukur kultur sebuah team atau organisasi. Yaitu, "orientasi hasil" dan “refleksifitas sosial.” Keduanya digambarkan dalam dua buah garis yang bersilangan. Ukuran yang dipakai adalah positif dan negatif. Dari sana muncul empat kwadran. Kwadran pertama, team yang disfungsi karena hasil kerjanya minus, dan suasana sosial dalam team juga minus. Kedua, organisasi yang menyenangkan, karena suasana sosialnya saja yang positif tapi orientasi hasilnya negatif. Ketiga, organisasi yang kaku. Karena baik hasil maupun suasana sosialnya negatif semua. Adapun yang keempat, dia sebut dengan “team yang berfungsi penuh” Karena hasilnya positif, dan suasana sosialnya juga positif.

Apa yang disampaikan Mc. Waber bukan hal yang baru dalam Islam. Rasulullah adalah contoh pemimpin yang mendorong para sahabat sebagai para anggota jama’ah da’wahnya unt.uk berprestasi, tidak saja di dunia, bahkan di akhirat. ia bersabda, "Barangsiapa lambat amal-nya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya." Selain dorongan berprestasi, Rasulullah menerapkan konsep ukhuwah sebagai aturan interaksi sosial. Karenanya, bila kita tergabung dengan organisasi Islam, ataupun organisasi da’wah, daya inisiatif kita harus terus kita asah. Agar lahir kultur organisasi yang baik, bukan malah kultur yang mematikan budaya inisiatif.

  • Kultur pekerjaan

Dalam batas tertentu, jenis pekerjaan punya pengaruh kepada daya inisiatif seseorang untuk beramal shalih. Sopir angkutan yang berpacu mengejar tingginya setoran, mahasiswa yang berjibaku dengan diktat-diktat, seorang pengusaha mapan, pedagang di lampu merah, pegawai negeri, petani, dan lain sebagainya, punya kultur pekerjaan yang berbeda-beda. Suasana kerja yang berbeda-beda itu memberi pengaruh berbeda pula kepada tingkat inisiatif orang untuk melakukan amal shalih. Betapa banyak dari mereka yang tidak punya inisiatif untuk shalat, misalnya, karena alasan pekerjaannya. Padahal, sebenamya masalah utamanya adalah hati mereka, bukan pekerjaan. Karenanya, setiap muslim maupun seorang da’i harus mengenali betul karakter kultur pekerjaannya. Ia harus tahu seluk beluk dan lika-liku pekerjaannya. Dari situ ia lantas punya pengetahuan yang cukup untuk mengubah hambatan-hambatan inisiatif menjadi pendorong-pendorong inisiatif untuk beramal shalih.

Maka, pilihlah pekerjaan yang halal. Lalu kendalikan pekerjaan itu, dan jangan  sebaliknya, pekerjaan yang mengendalikan kita. Bila pekerjaan berada di bawah kendali, kita akan bisa menjadwal diri untuk melakukan kewajiban-kewajiban beragama kita maupun kewajiban-kewajiban da’wah kita.

  • Kultur dasar pendidikan

Latar belakang kultur pendidikan kadang turut mempengaruhi daya inisiatif seseorang untuk beramal shalih. Kultur ilmu-ilmu eksak mempengaruhi kekuatan logika rasional lebih banyak dibanding ilmu-ilmu sosial. Sebaliknya, ilmu-ilmu sosial punya dorongan akomodatif dan toleransi yang lebih besar terhadap norma-norma tertentu. Apapun yang kita pelajari, sedikit banyak akan membentuk kepribadian kita. Sebelum orang melakukan pekerjaan atau beramal, pertama kali diawali oleh pemikiran. Atau persepsinya tentang pekerjaan itu. Seperti kata Imam Ibnul Qayyim, bahwa fikrah (pola pikir) itu mendahului pekerjaan. Atau seperti ungkapan Ibnu Khaldun, "Kamu adalah seperti apa persepsi kamu tentang kamu."

Bukan berarti ada pendidikan yang mematikan inisiatif seseorang. Tapi masalahnya lebih kepada sejauh mana seseorang dengan latar pendidikan tertentu tetap punya inisiatif beramal shalih yang tinggi. Dan, itu membutuhkan kearifan dari setiap orang.

  • Kultur bawaan lahir

Adakalanya, matinya inisiatif beramal merupakan dampak dari karakter bawaan lahir. Ada orang yang sejak lahir kemampuan berinisiatifnya lemah. Bisa karena faktor genetis, bisa juga karena salah urus pada masa kecil. Faktor genetis, yang oleh Rasulullah disebut dengan al-’irq memang tajam. Setiap bayi lahir pasti mewarisi unsur-unsur tertentu dari gen orang tua maupun kakek neneknya. Suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah. Ia mengadu karena anaknya hitam negro, padahal ia dan istrinya tidak seperti itu. Rasululullah mengatakan, bisa jadi yang negro adalah kakek-neneknya di atas yang jauh sekali pun.

Adapun soal pembinaan sejak kecil, perhatian terhadap perkembangan kecerdasan anak, akan mempengaruhi tingkat kemampuan mereka dalam berinisiatif beramal. Baik kecerdasan intelektualnya, maupun kecerdasan emosinya. Menurut para ahli, otak manusia, atau kecerdasan intelektualitas itu bisa diperbaiki dan dibentuk hingga anak berusia sekitar delapan belas tahun. Sedang kecerdasan emosi bisa dibenahi hingga usia tua sekalipun.

Kemampuan berinisiatif tetap bisa diasah, sesuai kadar kecerdasan itu. Tapi inisiatif tak selalu harus lahir dari kecerdasan. Setidaknya, orang secara umum bisa menimbang mana yang baik dan harus ia amalkan. Dan mana yang buruk yang harus ia tinggalkan, Allah swt berfirman, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.”(QS. Asyamsy). Pada taraf selanjutnya, setiap muslim dan setiap da’i harus terus belajar mengenali tabiat dirinya, menghafal karakter bawaannya. Lalu dari pengetahuan tentang dirinya sendiri itu, ia tahu betul kapan saat jenuhnya, dan bagaimana kiat membangun kembali semangat inisiatif beramal shalih. Sesuatu yang orang lain belum tentu tahu.

Semua kultur tersebut di atas, hanya peluang dan potensi yang bisa mempengaruhi kadar inisiatif seseorang dalam beramal shalih. Tak selamanya kultur-kultur itu menjadi penghalang, apalagi menjadi sebab matinya inisiatif beramal shalih. Segalanya masih kembali kepada masing-masing kita. Bagaimana kita mengasah dan menumbuhkan terus semangat untuk berinisiatif. Agar apapun kultur yang mengitari diri kita, tetap menjadi pemacu untuk beramal shalih dan berda’wah lebih serius lagi. Wallahu’alam.

More about → Pengertian dan macam – macam Kultur

Apakah Aku Seorang Muslim?

Posting by : Ongki sang jagoan blog on Kamis, 07 Januari 2010

By : Yae@s Girls

 

Aku Seorang Muslim

Begitu bermaknakah kata itu ?, Atau hanya sebagai tanda saja. Agar tidak dicap komunis ?, Atau cuma sebagai titipan dari orang tua?

Kita bebas untuk memilih. Di dalam hidup ini pasti banyak pilihan, alternatif terbaik atau terburuk sekalipun bukan jaminan kita tidak salah memilih. Saat aku menyadari hidupku, saat ini aku sedang menyeberangi jembatan. Sudah sepertiganya kurasa dan sejauh itu aku terlalu berjalan kepinggir. Hingga ada saatnya aku mulai terperosok, kadang hampir jatuh. Tetapi disaat seperti itulah aku mulai bangkit memperbaiki jalanku. Meski aku takut, takut mati setelah ini, setelah aku mengetik naskah ini dan tiba – tiba malaikat sudah menjemput didepan mata. Padahal aku masih bergelimangan dosa segar yang tadi baru aku lakukan, atau sekarang aku lakukan, atau bisa juga yang kemarin dulu aku lakukan dan belum ada pengampunan untuk itu.

Pilihanku menjadi seorang muslimlah yang menginspire aku agar memikirkan itu. Bukan hanya besok aku ingin melakukan apa saja, tapi pertanggung – jawaban tentang yang akan aku lakukan yang sering aku lewatkan. Muslim adalah pilihan terindahku sejauh ini. Berada pada jalan yang benar membuatku senang, tetapi butuh perjuangan yang lebih keras agar tetap pada jalan yang lurus. Rasa cinta yang seharusnya makin hari makin berkilau tetapi makin surut karena berbagai hal.

Aku ini hanyalah manusia, yang juga rapuh, rentan terhadap apapun yang menimpaku. Hingga rasanya bertahan adalah hal terbesar yang selalu kucoba sekarang ini. Muslim atau bukan aku ingin tunjukkan pada orang lain yang setidaknya menyempatkan waktunya untuk membaca ini, Allah, Tuhanku menyayangi kalian semua yang ada di bumi.

Menjadi muslim adalah hal yang simple secara logika. Dengan mematuhi segala aturan Allah dan menjauhi apa – apa yang dilarangnya, kita dapat kedudukan tertinggi di sisi Allah. Semua perbuatan mendapat pertanggung-jawaban nantinya dan mendapat imbalan yang setimpal juga. Begitu adil agamaku ini.

Hanya karena aku terbawa arus deras globalisasi dan tanpa pondasi yang cukup kuat aku belum bisa menggapai tujuan itu. Tapi insyaallah aku akan terus berusaha.

More about → Apakah Aku Seorang Muslim?

Allah dalam Kehidupan Ku

Posting by : Ongki sang jagoan blog on Minggu, 03 Januari 2010

 

Hidup itu berdiri disaat ini. Detik ini yang bergulir dimana saat dunia masih mengakui keberadaan kamu. Keberadaan? ada dimana sekarang aku, duduk di kursi memelototi PC atau asyik berguling di tempat tidur dengan laptop di samping. Atau didalam dunia yang memiliki dimensi perputaran begitu penuh. Penuh dengan perjuangan, penuh dengan kehidupan. Kehidupan berawal dari eksistensi, eksistensi seseorang didunia ini, tujuan apa hingga manusia hidup di bumi ini.

Pasti ada saatnya kita lakukan evaluasi diri. Dan saat itu terjadi, pernahkah kita berpikir tentang tujuan kita hidup didunia? pernahkah kita berpikir tentang kehidupan macam apa yang kita jalani saat ini?pernahkah kita beripikir siapa yang begitu Maha Besar menciptakan seluruh Jagat Raya ini?pernahkah kita berpikir bahwa sebenarnya eksistensi Tuhan begitu besar dalam hidup kita?pernahkah kita bertanya disetiap waktu yang tersisa untuk merenung, dimana Tuhan itu?

Tentunya perasaan seperti itu selalu menghinggapi jauh di kedalaman pikiran kita. Kadang itu terusik saat kita menghadapi sesuatu yang sensitif, tetapi kadang pertanyaan itu tenggelam oleh emosi kehidupan yang kita miliki. Terlalu sibuk untuk memikirkan hal sepele seperti itu, apalagi banyak hal yang harus dilakukan hari ini.

Pejamkan mata kamu sebentar saja dan resapi bagaimana kamu akan menjawab pertanyaan seperti itu. Saat aku berkata bahwa aku Islam, tanpa kusadari sejak awal itu adalah tujuanku. Bukan untuk hidup tujuan yang sebenarnya. Saat tujuan sepenuhnya ditujukan pada Allah itulah yang sejati. Dimana Allah??di langitkah??atau di dimensi lain??

Orang bertanya kepada Rasulullah saw. :

“Wahai Rasulullah di manakah Allah, di bumi atau di langit?” Rasulullah saw. Menjawab : “Dalam qalbu hambaNya yang beriman!” (al hadits)

Setiap waktu yang masih berdetak hingga kini, sebenarnya Allah hidup didalam Hati, didalam pikiran orang yang masih bisa merasakan kehadiran-Nya. Kitalah yang membuat Allah ada, saat bertekad percaya kepada-Nya saat itulah kita memasuki dimensi-dimensi yang telah dikaruniakan-Nya untuk kita, para Khalifah bumi. Dimensi itu yang membuat kita memiliki power of magic. Tanpa kita sadari sebenarnya kita butuh suplai makanan lebih dari sekerat roti per harinya. Jiwa kita butuh itu dan itu lebih penting dari energi yang diberikan setelah kita makan. Power of soul yang kita dapat saat kita merasakan gelora kenyamanan dihati dan otak kita. Bahkan otak kita peka terhadap dimensi yang sepenuhnya dikuasai oleh Allah itu.

Kebaikan untuk diri kita, untuk orang lain dan untuk dunialah yang bisa membuat kita bertahan hidup. Merasakan bagaimana indahnya esensi kejujuran, kebaikan dengan menolong, bertanggung jawab terhadap sesuatu, menjadi kepercayaan seseorang. Hal itu yang kita butuhkan, bukan makan-minum dan tidur saja. Hal yang seperti itu membuat hidup kita menjadi lebih bertaste.

Mantapkanlah tentang visi tinggal didunia ini sebelum memulai hari. Karena saat memulai tanpa ada visi itu sama saja dengan membuangnya tersia-sia. Satu-satunya yang begitu aku percaya saat ini hanyalah Allah. Allahlah yang memberiku kekuatan disaat aku masih berpaling dari-Nya. Dan tidak pernah lelah untuk tetap menyayangiku disaat yang lain mulai berpaling dariku. Dulu aku sering merasa kesepian, tetapi tidak lagi sekarang saat aku menyadari bahwa Allah begitu dekat denganku.

Manusia lebih tinggi derajatnya karena dia diberi akal dan hati, dia ditiupkan fitrah Allah dan dengan fitrah itu kita bisa merasa dengan fitrah itu kita menjadi pemimpin, kita menjadi seorang yang dapat dipercaya, menjadi seseorang yang saling menyayangi, menjadi seseorang yang pintar. Menjadi imitasi dari asmaul husna. Dengan akallah nantinya akan menemukan kebenaran yang sejati, kebenaran yang menurutku hanya Islam. Dan dapat membedakan bukan dengan mata, telinga atau hidung, tetapi dengan hati, dimana kebenaran sejati dan dimana kebenaran yang termanipulasi.

More about → Allah dalam Kehidupan Ku