Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Mawar Merah Yang Terakhir

Posting by : Ongki sang jagoan blog on Minggu, 21 Februari 2010

By  :  Efa - 2008

Hari-hariku terus berjalan, melewati waktu yang terus bergulir, seakan tak pernah berhenti. Kini aku melintasi waktu bersamaBoy. Meski aku dan Boy jarang bertemu pandang. Hanya di taman sudut kotalah kami dapat saling mencurahakan hati. Meski begitu aku bahagia kok Boy… Aku bahagia bisa jalan bersamamu. Bersama menikmati indahnya cinta dan bunga mawar yang selalu kau bawakan untukku…

“Hebat kamu Boy… Dapat duit berapa kamu kemarin?”.

“Iya Boy… padahal musuh kamu, si Andi itu hebat banget lho!”.

Aku mendengar percakapan dan kata-kata pujian dari teman-teman Boy, ketika aku melintas di depan ruang kelasnya. Ah Boy… ternyata kamu belum juga mau berubah. Apakah tak kau sadari, aku selalu mengkhawatirkanmu, setiap kali kau melintas cepat di jalan beraspal itu. Sampai kapan kau melakukan itu Boy? Aku tak kuasa untuk terus menanti kapan kamu akan berhenti. Boy… cepatlah berhenti!

*** Minggu 6 Juni 2007***

“Kemarin aku menang lagi, jadi aku bisa membeli buku-buku baru untuk tahun ajaran ini. Dan selebihnya akan ku tabung”. Kata Boy membuka kata pada pertemuan kami kali ini.

“Iya aku sudah tahu”. Sahutku dingin. “Boy… kapan kamu akan berubah?”. Boy menghela nafas panjang ketika aku melontarkan pertanyaan itu.

“Entahlah Ngie, aku sendiri juga tak tahu. Tapi aku janji suatu saat aku pasti berhenti!”.

“Iya Boy, tapi kapan?”.

“Sudahlah jangan di bahas lagi soal itu.Yang penting aku masih bisa bersamamu dan aku masih bisa membawakan bunga mawar untukmu.” Ujar Boy sambil mencolek ujung hidungku.

Tak pernah lupa, Boy selalu membawakan aku setangkai bunga mawar di setiap kali aku menemuinya di taman ini. Entah sudah berapa banyak bunga mawar yang dibawakannya. Karena aku sudah jalan bersamanya sejak setahun yang lalu. Di bangku bercat hijau itulah, aku dan Boy selalu mengahabiskan waktu Minggu sore, yang selalu meninggalkan kenangan indah untukku. Seindah cinta dan bunga mawar yang diberikannya padaku.

*** Minggu 8 Agustus 2007***

Seperti Minggu-minggu biasanya, aku selalu menanti Boy di bawah rindangnya pohon beringin di taman sudut kotaku. Waktu telah bergulir kedepan, dan tanpa kusadari kupu-kupu pun beranjak pergi. Namun Boy belum juga menampakkan diri. Ku coba menantinya dan terus menanti…

“Maafkan aku Ngie, aku membuatmu menunggu lama!”. Ucap Boy sambil memberikan setangkai bunga mawar yang dibawanya.

Kuterima bunga itu, namun aku heran ketika melihat wajahnya yang kusut dengan sebuah senyum yang terpaksa dia lebarkan.

“Kenapa kamu Boy?”.

Boy tak menjawab, meski aku telah bertanya beberapa kali, mungkin saja lukisan wajah itu nampak karena dia kalah dari permainan kemarin.

“Aku bingung Ngie, ibuku seharian mengomel.Dia kurang setuju aku terjun dalam pekerjaan ini!”. Ujarnya dengan mimik begitu sedih.

“Semua pasti kurang setuju, meski hasilnya juga untuk kebaikan keluargamu. Karena nyawa yang kamu pertaruhkan Boy!”.

Aku tak bisa meneruskan kata-kataku, karena kau tahu, kini persaannya sedang berkecamuk, akhirnya aku mengajaknya berbincang hal yang lain, agar dia sedikit melupakan senua beban beratnya itu. Hingga matahari mulai beranjak pulang ke peraduan. Aku mengajak Boy bergegas pulang. Meski aku tahu betapa berat langkah kakimu itu Boy…

“Wah hebat banget kamu Boy! Aku tak pernah menyangka, kamu bisa menang melawan Si Hendri, anak sombong itu”.

“Iya… biar tahu rasa dia, memangnya dia saja yang jagoan!. Mentang-mentang dia banyak duit”.

“Eh… ngomong-ngomong, Si Hendri kemarin “tumpah” di tikungan terakhir ya?”. Tanya Si Gendut.

“Hei Gendut, kamu ini kuper banget ya? Kemana saja kamu kemarin?”.

“Hu….hu…hu…”. Suara dalam kelas Boy menjadi riuh.

Tidak hanya satu atau dua kali itu saja, aku mendengar percakapan semacam itu, dari teman-teman Boy. Dan setiap aku mendengar ada yang “tumpah” darahku selalu berdesir. Berharap itu takkan terjadi pada Boy. Aku juga tahu, mungkin hal itu jugalah yang dikhawatirkan Ibumu Boy!. Sadarlah Boy… semua orang disekitarmu selalu mengkhawatirkanmu saat kau nekat turun di jalan beraspal itu.

Boy… kapan kamu akan menepati janjimu untuk berhenti? Aku tak bisa mengijinkanmu bertaruh nyawa di setiap lintasan itu, demi apapun…

*** Minggu 3 Oktober 2007 ***

“Hai Angie… aku kira kamu tak datang. Aku disini sudah agak lama lho!”. Boy menyapaku duluan ketika aku menghampirinya ditempat biasa, di sebuah bangku di taman sudut kota.

“Maaf Boy, pekerjaan dirumahku belum selesai, jadi aku tak bisa pergi sebelum semua beres”.

“Ya, aku tahu itu kok”. Boy tetap tersenyum menatapku.

“Boy, apa ibumu sudah baikan?”.

“Aku semalam tak pulag ke rumah Ngie!”. Aku tak melanjutkan pertanyaanku, bertambah bencinya aku dengan pekerjaan yang kau ambil ini Boy. Karena ini semua telah membentuk sebuah jarak antarakau dengan ibumu dan adik-adikmu, juga aku.

“Angie, kemarin aku menang lagi, kali ini aku ingin mengajakmu membali alat yang akan kita pakai untuk praktek besok”. Ujar Boy.

“Nggak usah Boy, aku bisa pakai punya kakak”. Jawabku cuek.

Sejenak aku dan Boy terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Pikiranku berkecamuk tak tetu, antara “Iya” atau “Tidak”. “Iya” berarti aku harus mengijinkan Boy untuk terus balapan. Tapi sampai kapan pun aku tak pernah bisa mengijinkan Boy untuk itu. “Tidak” berarti aku melarang dan memintanya lagi untuk berhenti. Tapi aku juga tak bisa untu melarangnya, Boy butuh biaya untuk sekolahnya dan keperluan sehri-harinya. Belum lagi kedua adik Boy yang masi kecil. Merka butuh biaya untuk sekolah, dan itu semua tidak sedikit…

“Maafkan aku Ngie, aku selalu membuatmu khawatir. Tpi aku janji kok Ngie, suatu saat aku pasti berhenti dan aku akan mencoba mencari pekerjaan lain untuk biaya sekolahku”. Boy mencoba menenangkan hatiku saat dia tahu, aku selalu gundah ketika bicara masalah balapan liarnya.

“Ya, tapi kapan? Sudah berapa kali kamu janji untuk berhenti! Aku tak mau terjadi sesuatu yang buruk pada dirimu”. Dengan suara tinggi kau menatap dalam wajahnya. Boy tak menjawab. Matanya menerawang memandang langit disisi barat yang mulai berubah warna jingga.

“Hari sudah sore Ngie, kita pulang saja yuk…!”. Boy berdiri dan menggandeng tanganku. Sambil menelusuri jalan setapak di taman kota.

Aku dan Boy terus berjalan menelusuri jalanan kotaku yang mulai gelap. Lampu-lampu di jalan mulai menyala, kendaraan yang lalu lalang juga mulai menyalakan lampunya. Pertand hari mulai berganti malam. Aku dan Boy berpisah setelah melewati tikungan jalan Fourteen. Karena memang rumah kami tak searah. Aku masih sempat melirik kearahnya, saat kami berpisah. Boy aku sayang kamu…

Kini hampir setahun sudah kita berjalan bersama. Begitu banyak cinta dan bunga mawar yang kau bawakan untukku. Aku tahu Boy, selama ini juga kau seperti hidup dalam dua sisi. Kau seperti hidup dalam dua dunia yang tak bisa kau tinggalkan. Antara aku dan lintasan balapmu yang telah memberikan kau penghidupan. Tapi kau sudah berjanji untuk meninggalkannya kan Boy?. Kau pun juga pasti tahu, kenapa aku begitu berat mengijinkanmu untuk bertaruh nyawa di lintasan beraspal itu.

“Untuk para siswa yang belum melunasi tanggungan sekolah, harap segera melunasi sebelum menghadapi ujian akhir”

“Hai Boy, kamu sudah membaca pengumuman di papan belum?”. Tanya Erick sambil menepuk pundak Boy yang sedang duduk di taman sekolah .

“Sudah, memangnya kenapa?”. Jawab Boy datar.

“Kamu butuh duit gak, untuk bayar sekolah besok? Aku tahu kok, kamu belum bayar uang sekolah kan?”. Erick terus bicara. Dia tak menghiraukan teman-teman yang berjalan lalu lalang disamping tempat duduknya.

“Maksud kamu apa Rick?”.

“Ah…kamu ini pura-pura tak tahu saja. Si Hendri tuch nantangin kamu lagi, kalau kamu menang, duitnya gede lho…”. Mendengar kata-kata Erick, Boy terdiam.

“Iya libas saja, tapi apa si Hendri punya duit?”. Si Gendut mulai ikutan bicara.

Boy mulai menoleh kearahku, yang sejak tadi aku duduk terdiam disampignya. Ku tahu, Boy meminta jawaban dariku. Sepatah kata pun tak terucap dari bibirku. Aku berdiri dan meninggalkan Boy. Sebelum dia meminta jawabanku dengan kata-kata.

“Sudahlah Boy, jangan pikirkan dia, cewek memang begitu”. Aku masih sempat mendengarkan kata-kata itu. Entahlah Boy aku tak bisa menjawabnya… Aku hany bisa berharap, kau bisa memberikan yang terbaik untuk kita berdua.

*** Minggu 22 Mei 2008 ***

“Minggu depan aku harus turun lagi Ngie”. Boy menggenggam tanganku ketika dia mengatakan itu. Aku terdiam menghela nafas panjang dan tak tahu harus menjawab apa. Lama aku dan Boy terdiam.

“Untuk bayar tanggungan sekolah? Apa tabunganmu sudah habis Boy?”. Akhirnya aku mulai bicara.

“Sudah habis Ngie, karena kedua adikku juga butuh biaya untuk sekolah, kamu kan tahu kalau ibuku hanya seorang janda penjual kue pasar. Jadi nggak mungkin cukup untuk semuanya”.

“Jadi kamu tetap turun dan ikut taruhan sama anak-anak?”.

“Iya Ngie, tapi selama ini aku belum pernah ikutan taruhan. Dari pada buat taruhan lebih baik kan buat kebutuhan yang lain. Aku Cuma joki bayaran, kalau aku menang aku dapat bayaran, tapi kalau pun aku kalah, aku juga masih dapat meskipun cuma sedikit”.

“Apa nggak bisa dengan cara lain?”.

Dia hanya bisa bilang, “Kalaupun bisa kenapa aku harus turun” katanya dia juga nggak mau selalu buat aku dan ibunya khawatir.

“Cuma itulah satu-satunya cara. Kalau aku menang, kurasa bayaranku cukup untuk menutup semua tanggunganku. Kalaupun kalah… ya, gimana lagi”. Boy mengakhiri kata-katanya sambil mengangkat bahu.

Aku hanya bisa terdiam dan tertunduk mendengar kata dan alasan Boy yang tak mungkin bisa aku sangkal. Sudah berapa kali dia berjanji padaku, tapi kapan janji itu akan dia tepati?

“Tolonglah Ngie, selama ini kamu tak pernah kasih aku izin. Untuk satu kali ini saja!”. Boy memandang wajahku penuh harap. Aku tetap diam, tak ada kata-kata yang terucap darikulagi. Aku masih diam dan akhirnya…

“Baiklah… tapi untuk satu kali ini saja. Dan aku minta kamu benar-benar berhenti dari pekerjaan itu, apa pun resikonya nanti.

Boy tersenyum gembira, mendengar semua kata-kataku yang berarti aku memberi izin untuknya. Entah perasaan apa yang berkecamuka dalam hatiku, saat aku mengizinkannya untuk bertaruh nyawa di lintasan balapan itu demi sekolahnya, demi kedua adiknya dan demi hidupnya. Entahlah… aku sendiri tak pernah tau.

“Ya… aku janji, biar semua kupu-kupu, bunga-bunga dan bangku singgasana kita ditaman ini menjadi saksi”. Sambil berkata itu Boy menyelipkan bunga mawar di rambutku.

Sebelum dia selesai menyelipkannya di rambutku, aku langsung menyambar bunga itu dari tangan kanannya.

“Alaaaah, gak usah sok romantis kamu. Aku tahu kok, kamu palinga gak bisa untuk itu”. Senyum Boy serta perasaan malu masih tampak jelas ketika aku berkata itu. Meski Boy berusaha untuk menutupinya.

“Ya sudah, aklau begitu kita pulang saja yuk! Kamu kan…”.

“Ya… aku memang PRT, PRT yang tak pernah di agji”. Aku langsung menyahut kata-kata guyonan Boy begitu saja.

Langit disisi barat memang sudah berubah warna jingga, saat aku dan Boy beranjak dari taman sudt kota itu. Kami melangkah pergi hendak pulang keperaduan masing-masing. Boy… aku harap merasakannya, betapa aku sangat menyayangimu…

 

*** Minggu 29 Mei 2008 ***

Aku menyusuri jalan di taman sudut kota itu yang selalu terasa indah untukku, taman sudut kita yang selalu menjadi taman istana cintaku dan Boy. Bersamamu… aku merasakan kebahagiaan yang sempurna Boy…

Di bangku di taman kota itu aku tak melihat Boy yang biasanya duduk menantiku. “Mungkin Boy belum datang”. Ucapku dalam hati. Karena biasanya memang aku dulu ayng lebih awal tiba di taman. Pandangan mataku tiba-tiba tertuju pada bunga mawar yang terletak diatas sebuah bangku berwarna hijau yang biasanya menjadi saksi pertemuanku dengan Boy. Aku merasa bunga itu dari Boy.Ternyata Boy sudah tiba lebih awal, tapi kemana kau Boy…?

Aku merasa bingung, aku juga baru sadar ketika aku memungut buna mawar dari bangku taman yang ternyata terselip secarik kertas kecil di ujung tangkai bunga itu.

“ maaf ngie, aku tak sempat menunggumu”.

Terbaca jelas tulisan itu olehku. Kenapa kau tak sempat menungguku Boy? Ada apa… Apa mungkin kau telah lebih dulu berangkat ke lintasan balapmu sebelum aku tiba? Aku rasa memang karena itu Boy, Hingga kau tak sempat menungguku.

Aku tak mengerti apa yang telah Boy lakukan. Mengapa dia tak sempat menungguku kala itu. Ternyata sesuatu hal telah terjadi…

*** Minggu 5 Juni 2008 ***

Kini aku sendiri, duduk di bangku taman sudut kota. Tak ada lagi bunga mawar yang selalu manemaniku menjalani hari-hari yang selalu tersa indah saat bersamamu. Bunga-bunga mawar yang kau tanam tak mungkin bisa lagi aku nikmati di taman ini. Taukah kamu Boy, bunga-bunga mawar yang kau tanam itu pasti bertanya dan berkata

“Aku sudah mekar dengan indah, kenapa Boy belum juga memetikku, kemana Boy pergi?”. Bunga-bunga mawar itu takkan pernah tahu jawaban pertanyaan mereka, karena mereka takkan pernah tahu apa tang telah terjadi pada dirimu, hingga mereka layu dan mengering. Lintasan beraspal itu telah merenggut cita, cinta, dan harapanku bersamamu

Tahukah kamu Boy, aku masih menyimpan bunga mawar terakhir darimu, meski kini bunga itu juga mulai layu dan mengering, seperti apa yang telah terjadi pada air mataku yang telah mengering, karena aku tak ingin kau pergi meninggalkan aku dan semua orang yang berada disampingmu serta menyayangimu.

Ternyata kau benar-benar tak sempat menungguku lagi.

Ternyata kau benar-benar menepati janjimu. Meski dengan cara yang sama sekali tak pernah kau dan aku ketahui.

*** SELESAI ***

More aboutMawar Merah Yang Terakhir

Alunan Lagu Kehidupan

Posting by : Ongki sang jagoan blog on Minggu, 14 Februari 2010

By  :  Aeoyici

Sore – sore begini lalu lintas sudah mulai ramai, tapi untungnya Bandung masih menjadi temanku. Seperti sore- sore biasanya di hari Kamis, harus mengantar Rasti sahabatku tercinta ini latihan basket di sekolah.

“Ras, ntar pulang jam berapa?”, tanyaku sambil mengecek dasbor, mencari kaset Britney.

“Kalo gak ada event yah kayak biasanyalah. Eh… tahu gak tadi Bu Wulan kasih senyuman mautnya ke Rui?”, kikiknya. “Gila aja… Rui segila itu apa musti diperebutin segitunya”

“Yah… menurut aku sih emang Rui kan cool anaknya”

Sebelum membalas jawabanku, mobil Audiku sudah membelok ke sekolah tercinta ini. Lapangan basket sudah diduduki beberapa mavia gankster anak kelas tiga yang semakin ngebos saja. Aku, yah… tidak sepenting Rasti buat gabungan sama mereka.

Tapi hari itu selain teriakan dari cewek- cewek beringas ala rock n roll juga ada beberapa anak cowok basket. Setahuku hari ini anak cowok tidak ada latihan. Memang yang seperti ini nih yang selalu membuat aku ingin cepat balik. Matanya pada maut semua sih.

Bye, Rez”, Rasti langsung melejit ke lapangan basket. Aku memutar balik menuju bimbel.

 

^-^

Hari ini melelahkan. Lesnya tadi ternyata mengulang materi minggu lalu, karena materi molar masih agak rumit. Mau gak mau, butuh tetep butuh aku buka laptop. Hari ini Kak Raka belum on- line. Bisa mati lampu nih kalo 15 menit lagi tidak on- line, sekarang saja mata aku sudah tinggal 5 watt.

Cklik.

“Bun, bawain jus jerukku di bawah ya nanti kalo turun?”, teriakku malas- malasan. Aku pikir nanti setelah minum jus pasti agak fresh, tidak kucel seperti sekarang ini.

“Orangnya sudah disini kok masih ditunggu on- linenya”, suaranya lembut seperti kue brownies kesukaanku, dan pasti tidak ada duanya. “Ehm… ini juga sudah aku…”

Kata- katanya terpotong karena aku langsung melompat memeluknya.

“Whoops… sepertinya kamu terlalu bersemangat”, ujarnya menyelamatkan jus jeruk yang dibawa. “What’s up baby?”, sekali lagi dengan suara yang ceria tapi tetap ramah.

Now??I’m very great. Look at you…”, berlagak membersihkan kemejanya. “Ngapain Mas disini??”, tanyaku masih dengan senyum selebar senyumnya Mas Tukul.

Dengan cengar- cengir, “Ya ini aku bawain jus jeruk dimeja. Kata Mbok Nah punya kamu. Sekalian ngecek kamu lagi on line apa gak”

“Ngapain di Bandung??”, tanyaku tidak sabaran.

“Mau ngusir Non?”, tanyanya berlagak jutek. Aku tersenyum simpul. “Ya nggak lah. Kangen banget…”, aku mulai merajuk.

Akhirnya, setelah dua tahun minggat ke negerinya Pak Lek SAMidi sekarang balik juga. Kakak sepupuku yang paling aku sayangi dan aku banggakan. Kayak bunyinya pembukaan pidato saja.

“Gimana New Jersey?”, tanyaku sambil menyeruput jus jerukku. “Kok pulangnya cepet banget?mana gak kasih kabar lagi. Aku kan bisa jemput”.

“Yah… kemarin itu gak ada planing buat pulang. Om Marcel dateng kesana terus sekalian ngajak pulang. Ya aku ikut”, masih sibuk meneliti isi kamarku. “Jadi gimana sekolah?masih Djawa?”

“Kok tahu?”

“Kakak yang baik hati dan tidak sombong plus tidak ada duanya like me ini ya pasti tahu dong perkembangan his sweet cat”, kali ini mulai membuka- buka koleksi novelku.

“Preeeett……”, aku cuma nyengir. “informannya akurat nih?”

“Yaiyalah masa yaiya dong. Mulan saja Jameela masa Jamidong”, dia tertawa nyengir, aduh manisnya kakak tercintaku ini. “Tadi dikasih tahu guyonan lucu sama Mang Rahmat”.

Begitulah Kak Rakaku, dia satu- satunya orang yang aku cintai yang membuat aku tetap waras. Sering sekali aku menyukai seseorang jadi hilang akal sehat, weits…. Jangan keburu negatif thinking dulu. Maksudnya, aku terlalu memujanya, misalnya dengan Djawa. Bisa gila orang kalau melihat tingkahku.

“Pagi- pagi ngelamun aja”, Denis menubruk punggungku dengan asal saja. “Pr segudang gini masih sempat mikirin gue. Jangan seru- seru napa?”, seperti biasanya ekspresinya menampilkan ala band ‘70an. Gayanya kocak dan apa adanya sekali. Aku hanya menjitak kepalanya lalu beranjak mencari sumber Pr yang akurat, yah siapa lagi kalau bukan Melan, Miss Perfeksionisku.

“Hai…hai….udah selesei?”, tanpa menunggu jawabannya langsung ku comot pekerjaannya. “Rui kenapa sih?”, tanya Melan sambil memasang head set.

Aku hanya mengangkat bahu. “Napa emang?”, tanyaku tanpa menggubrisnya, maklum kalau salah menulis tanda implikasi jadi biimplikasi pada Pr Matematikaku bisa ruwet juga. “Tahu deh, dari tadi ngelihatin aku mulu. Emang aku salah pake bandana pink gini. Ngejrenk ya?”, tanyanya serius. “Eh, aku kok gak lihat kamu bawa helm”, tanyanya lagi.

“Dianter”, jawabku singkat. “Siapa?”. “Kak Raka”.

Sebenarnya nadaku juga tidak tinggi- tinggi amat tapi efeknya banyak orang tertarik seperti magnet mendekatiku. Rasti yang sibuk melihat jadwal basketnya kontan melonjak ke arahku dan Aya yang sedari tadi seperti orang linglung tidak tahu memikirkan apa mendongak ke arahku.

Whatz… Kak Raka?? Dateng ke Bandung??? Kapan???”, teriak Melan sampai- sampai Rui melirik dari pembicaraannya yang seru dengan Mario. Akhirnya pagi itu para kaum hawa yang kekurangan suplai cowok mengintrogasi aku sampai kenyang. Untung saja Pak Juan cepat datang, dan berakhir sudah senam mulutku pagi itu.

Panas- panas begini Kak Raka belum juga nongol, batinku dongkol.

“Hey…”, suaranya begitu tenang. Menghanyutkan rasa lelah dan penat yang ada. Memberi tenaga dalam setiap gelora alunan nadanya. Aku langsung berpaling melihatnya.

Ya ampun itu Djawa, suara Djawa, teriakku histeris di dalam hati.

“Nunggu siapa?”, dunia runtuh kalau untuk yang ketiga kalinya dia nanyain aku lagi. “Kak Raka”, polos, jujur dan apa adanya aku menjawab.

“Gak dateng, lagi body kit Toyota crownnya di Lancer. Aku yang antar”, suaranya penuh dengan kemantapan dan kesejukan. “Oh ya…Djawa Raditya”

Tuhan, dunia ini benar- benar terbalik rasanya. Tangan yang selama ini aku lihatin mau kenalan sama aku.

“Rezika, temen aku panggilnya Irez”, aku meraih tangan malaikat itu. Pasti ketahuan kalau lagi deg- degannya, tanganku dingin sekali. “Nunggu apa lagi?ayo naik”, dia menawarkan helm. Motor balapnya melaju didepan, bahkan aku sempat melihat Melan dengan ekspresi melongo saat melihatku.

Gila…gila dan gila…kemarin malam aku mimpi apa kok bisa dapat duren runtuh gak berhenti- berhenti kayak gini. Djawa obsesiku dari kelas satu SMA sampai sekarang kelas dua. Dia asli dari solo, pindah waktu aku pertengahan kelas satu, dia kelas dua. Dia drumer dari grup band etc(etcetera) dan pintar pelajaran Fisika, pelajaran paling nggak banget buat aku. Badannya cukup sama dengan temannya, tapi kulitnya bersih putih, matanya berbinar dan paling penting dan utama dia cuek membuatnya lain dari yang lain.

 

^-^

“Hai…hai…gimana punya kabar nih”, Rasti, Aya dan Melan memberondongku. Masuk rumah gak pencet bel maen nyelonong saja. “Mana Kak Raka”, kali ini sedikit berbisik Aya menanyakannya.

Aku menunjuk ke arah belakang dan mereka langsung menggaetku ke arah jariku tadi. “Eh…nanti saja masih ada…”, kalimatku belum selesai.

Kami berhenti di depan beranda. Aku melihat mulut mereka sedikit terbuka dengan tatapan mata yang shock, entah karena melihat ada Djawa atau karena sudah lama tidak melihat Kak Raka. Aku benar- benar malu dengan Djawa, dipikirnya nanti aku cari- cari perhatian.

“Oh…ada temannya Kak Raka, sorry ganggu…tadi cuma mau ketemu Kak Raka sudah lama gak ke Bandung”, ucap Melan yang sadar akan krisis PD disini. “Ya sudah kita masuk dulu ya Kak, kita masih mau ngobrol dulu”

“Ngobrol bareng disini juga gak apa- apa?”, kali ini Djawa menatap ke arahku. Please jangan menatapku seperti itu, seolah menyalahkanku kenapa kurcaci ini mengganggunya. Tiga kroniku sudah kabur kalang kabut masuk kamarku. Aku berbalik tapi masih sempat mendengar perkataan Kak Raka tentang kapasitor yang akan dipasang sebagai tambahan audio dimobilnya.

“Djawa??”, belum pernah aku melihat Melan sehisteris ini. “Sudah jadian??”, tatapannya kali ini membunuh.

Aku hanya menggelengkan kepala. “Sepertinya temenan sama Kak Raka”, singkat aku menjawab. Akhirnya kita malah asyik menggosip ria dan Djawapun terlupakan. “Denger- denger Rui bakal dapat nilai 9 untuk pelajaran Kimianya Bu Wulan”, Aya mulai berkomentar.

“Oh ya, kalau menurutku Rui hanya tertarik dengan Melan”, seruku sambil memutar lagu lama Spice Girl, Wannabe. Melan memelototiku seolah- olah ingin berkata apa maksudmu. “Apa sih kurangnya Rui, sudah anaknya ramah, manis, baik, pintar lagi. Jadi orang jangan dingin terus sama cowok, pamali”

Menjelang malam anak- anak bersiap pulang. “Bye, Kak Raka”, mata Aya gak berpaling dari Kak Raka, baru setelah tertabrak pintu dia mau pulang. “Kapan- kapan main ke rumahku ya Kak?”, Rasti lebih berani. Dan Melan hanya mengucapkan selamat malam. Setelah anak- anak pulang aku langsung memberondong Kak Raka dengan berbagai macam pertanyaan tentang Djawa.

Akhirnya Kak Raka cerita panjang lebar kalau kakaknya Djawa temannya di Amerika, Kak Raka bertemu saat tour pelajar di salah satu universitas di Minnesotta. Selain chatting denganku Kak Raka juga chatting dengan Djawa karena mereka punya hobi yanga sama, modif otomotif. “Sekalian deketin kamu ke Djawa”, tambahnya.

Sejak hari itu, setiap hari Djawa main ke rumahku, tidak pernah absen lagi. Senang sekali, tapi sempat gontok juga kalau biasanya Kak Raka mengajak aku jalan- jalan sekarang malah asyik debat sama Djawa. Misalnya saja sabtu lalu aku dijemput Kak Raka dan Djawa juga ikut satu mobil denganku, bukannya senang ada di dekat Djawa tapi malah di cuekin. Atau minggunya nonton pameran otomotif ke Jakarta di kawasan Kemang, sepanjang jalan sampai disana juga tetap nyerocos soal modifikasi. Mending tidur dirumah saja enak.

Hari ini juga Kak Raka pergi, pasti sama Djawa lagi. Sebel!!

Lampu Hpku menyala, tidak ada nomor. Siapa lagi sih, gerutuku jengkel.

“Halo”, suaraku tampak malas. “Besok ada acara gak?”, Djawa Raditya nelpon aku!!kok tahu nomor aku dari siapa?dia mau nelpon aku.

“Kayake gak ada. Ada apa?”, kali ini aku lebih bersemangat. Kali saja mau diajak ngedate. Hehehe… “Besok jam 8 aku ke rumah kamu, bilang ke Raka”

Ya hanya seperti itu saja dia telpon. Senang juga tapi ada sebelnya, kalau mau ada perlu dengan Kak Raka kenapa sih gak langsung saja. Malamnya saat Kak Raka pulang aku masih sebel, aku tidak bilang kalau Djawa besok kesini.

“Rez, bangun. Ditunggu temanmu di depan itu lho”, teriak Om Marcel dari luar kamar. Om Marcel memang kebiasaan bangun pagi, tidak hari kerja tidak hari libur bangun jam 5, berbeda dengan ayah, aku masih ingat waktu kecil dulu kita selalu bangun jam 9 kalau hari minggu. Tapi buatku itu tidak masalah, Om Marcel dan ayah sama- sama baik untuk bunda, jadi aku nyantai saja.

“Djawa, Om Marcel pasti salah bangunin aku deh”, aku bermaksud kembali ke kamarku. “Salah gimana? Kemarin aku kan sudah telpon kamu mau ngajak jalan”, dia menarikku kembali. Kalimat seperti ini lebih efektif untuk membangunkanku.

“Lho bukannya kamu mau pergi dengan Kak Raka?”, mataku benar- benar terbelalak. “Aku kan cuma minta kamu ijin ke Raka. Ya sudah sekarang cepat mandi”

Dua puluh menit dandan kilat dengan celana pendek diatas lutut dan kaos joger kebesaran yang hampir menyamai celana dibalut dengan sweter putih kecil dan sepatu kets. Perjalanannya jauh sepertinya akan ke bogor, ternyata belum sampai keluar kota tepat di dekat perbatasan ada sebuah tempat rekreasi taman Stroberi.

Sebelum masuk, Djawa membelikanku es krim stroberi dalam ukuran besar. Di dalam tidak seperti yang aku bayangkan seluas mata memandang akan ada stroberi, tetapi lapangan luas yang diisi dengan permainan out bond, misalnya panjat dinding, terbang layang dan ada juga permainan lain seperti roller coaster dan drop zone. Kami mencoba semua out bond dan cukup berani untuk lompat dari ketinggian 5 meter dengan tali pengikat di pinggang. Setelah puas dengan berbagai uji mental, masih juga naik roller coaster yang parahnya lagi kami mendapatkan bagian di depan. Saat itu hal yang aku gak pernah pikirkan terjadi.

“Rez…love you”, teriak Djawa saat kereta meluncur turun. Dia menggenggam tanganku. Brakk!!aku panik, sudah ini jantung deg- degan naik roller coaster ditambah dengan ucapan Djawa. “Jawab dong”, dia berteriak lagi. “Love you Djawa”, aku sedikit gemetar.

Turun dari roller coaster, orang- orang melihat ke arah kami, tapi kami cuek. Sebelum pulang kami makan siang dulu dengan menu semuanya stroberi dan tidak lupa beli stroberi buat Kak Raka. Wah hari ini aku senang sekali.

 

^-^

Sampai dirumah malah tidak ada orang, aku memasukkan stroberi ke kulkas. Melihat ada pesan yang dilekatkan didepan kulkas, aku langsung membacanya

Bunda dengan Om Marcel ke rumah eyang di Bogor. Eyang sakit mendadak, nanti makan diluar saja dengan Raka. Uangnya diatas kulkas.

Mana Kak Raka keluar juga, BT deh. Belum sempat aku beranjak ke kamar, Hpku berbunyi. Kak Raka memanggil.

“Aku tunggu di Kafe Dago sekarang, naik taksi saja. Sorry gak bisa jemput. Nanti aku kenalin seseorang”, singkat, padat dan jelas ucapannya. Belum juga aku istirahat langsung tancap gas ke kawasan Ndago, ramai lagi ramai lagi. Maklum ini kan jam lima sore, minggu lagi.

Disana Kak Raka sudah menunggu dengan seorang cewek Indo dari kejauhan. Ternyata namanya Brecelle Brenet, asli dari Jerman, pacarnya di New Jersey dan baru kemarin sampai. Makanya hari- hari ini Kak Raka jarang dirumah, sering ngajak muter- muter ceweknya sih.

“Meint name ist Brenet”, dia menjabat tanganku dengan resmi. Aku mana ngerti kalau dia ngomong Jerman begituan. Akhirnya setelah selesai makan aku pulang dulu, mana betah jadi baygonnya orang pacaran.

Minggu ini penuh dengan surprise, dari Djawa banyak banget. Setiap hari aku dijemput, akhir pekan kita jalan bareng sekedar viting makanan di kawasan Paris pan Java atau kalau nggak gitu dirumahku main gitar atau nemenin dia saat ada event buat manggung di mall. Ternyata seperti ini ya enaknya pacaran, kalau mau ulangan Fisika ada guru privatnya sekarang. Pelajaran apapun menyenangkan karena hati lagi senang, sekolah juga tidak malas lagi.

Sampai akhirnya beberapa minggu kesenangan itu, Kak Raka menungguku dikamar sepulang keluar dengan Djawa.

“Tumben,ada apa?”, tanyaku sambil meletakkan tas ke meja. “Besok balik”, ucapannya singkat masih menatap hujan yang mulai turun terlihat dari jendela kamarku.

“Cepet banget?’, tanpa aku mau suaraku meninggi. “Brecelle ngajak pulang?”, tanyaku panas. Dia menggeleng lemah. “Masa liburku kan sudah habis, lagi pula kan gak mungkin aku disini terus my sweet cat?”, mencoba membujukku.

“Kenapa sih?kita kan belum sering jalan bareng, dikit- dikit Brecelle belum lagi kalau keluar malem gak balik. Kapan ada waktu buat aku? Dulu kayaknya gak gitu!Dan besok balik. Mending gak usah ke Bandung saja”, aku sudah benar- benar marah sekarang.

“Oh jadi cuma aku yang pentingin diri sendiri, apa pernah aku kasih kritik kalau tiap hari kamu jalan dengan Djawa?siapa yang ngedeketin kamu ke Djawa?”, kali ini Kak Raka mulai tersinggung. “Sudahlah Dek, sorry Kakak jadi ikut emosi. Kan masih ada waktu banyak, nantinya kakak juga bakal tinggal di Indonesia. Sekarang bobok bareng saja yuk?jadi inget dulu waktu aku mau pergi kamu juga marah- marah gini”, senyumnya benar- benar bisa mencairkan suasana kayak gini.

Paginya semua barang sudah dipak dan siap berangkat, sebelum itu menyempatkan makan bersama dulu.

“Maafin bunda ya Ka?hari- hari ini bunda terlalu sibuk ngurusin butik jadi kurang perhatian”, ucap bunda sambil menyendokkan nasi goreng ke Kak Raka. Kak Raka hanya tersenyum kecil.

Di bandara tidak usah diceritakan karena aku yang paling menyebalkan, menggelayuti kakakku sampai bunda menggertakku agar melepaskan tanganku dari jaketnya. Sampai rumah aku mengunci diri di kamar Kak Raka. Aku kecewa dengan diriku sendiri yang egois, dulu setiap Kak Raka kesini aku selalu gak bisa dipisahin kemana- mana berdua, bahkan ke toilet saja bisa- bisa berdua. Tapi kepulangannya kali ini aku malah sibuk dengan Djawa, sibuk dengan kesenanganku sendiri.

Bangun dari tidur tahu- tahu jam 7 malam dengan air mata yang masih lengket dipipiku. Melirik ke meja yang penuh dengan miniatur mobil aston villa terselip sepucuk surat.

Sorry, my sweety cat, aku cepet- cepet pulang. Tapi emang kedatanganku buat cari’in kamu pacar, jadinya kamu gak marah saat aku kenalin Brenet ke kamu. Aku takut kamu bakal jelous. Aku harap bakal lama dengan Djawa, aku tunggu dua tahun lagi kedatanganmu di New Jersey.

Memang Kak Raka yang tahu aku. Apa mau aku, apa yang aku pikiran, segalanya tentang aku. Tapi dia tidak tahu kalau aku tidak mau ke New Jersey.

 

^-^

1 tahun kemudian…

Aku masih dengan Djawa. Sama seperti saat pertama kali jadian, tetap sayang. Besok adalah tahun kelulusannya aku sedikit ketar- ketir akan kelanjutan hubungan kita. Tapi Djawa selalu bilang ke aku bahwa inti dari mencintai adalah menjaga, menjaga kepercayaan bersama orang lain, baik itu dengan keluarga ataupun dengan teman. Djawa ingin melanjutkan kuliah di UI karena kakaknya juga bekerja di Jakarta mengambil jurusan tekhnik otomotif.

Seminggu kemudian Djawa pindah ke Jakarta, sendiri lagi.

Awalnya memang baik- baik saja. Setiap malam suka on line. Tetapi saat mulai semester I dan dia jadi banyak tugas dan lain- lainnya itu membuat jarak yang jauh semakin jauh. Enam bulan terasa sudah puluhan tahun saja.

“Rez, tadi pagi lihat infotainment nggak?”, teriak Aya dari luar kelas berlari menuju ke arahku. “Tadi Rez, Djawa kamu jalan sama Adea cewek Indo timur tengah yang lagi santer- santernya main film”

Aya’ aya’ wae kamu tuh”, aku hanya tersenyum simpul. “sudah sarapan belum?yuk ke kantin”, ajakku bersama Melan dan Rasti.

“Rezika Amadea bego!!bodo’!!”, kali ini Aya berteriak serasa ada di Gelora Bung Karno saja. “Rez, aku tadi pagi lihat dengan mata kaki tangan plus kepala lengkap dengan baju kalau Adea ketahuan jalan bareng disebuah mall bareng Djawa. Cowok itu Djawa”

Aku bisa mati ketawa melihat ekspresi Aya saat ini. Memang kadang- kadang dia suka kebablasan, tidak bisa membedakan antara mimpi dan dunia nyata. Tapi aku juga ada ketar- ketir, apalagi kita sudah lama agak miss komunikasi. Pulang sekolah semuanya menjadi jelas, Denis memberiku tabloid yang terbit edisi hari ini dan dalam pojok kiri terdapat berita kecil dan foto Adea bersama cowok yang sedang menggandeng tangannya, yang tidak lain tidak bukan adalah Djawa.

 

^-^

Sejak putus dengan Djawa aku belum ada yang baru, masih tetap bareng dengan Melan, Rasti dan Aya. Kadang- kadang minggu pagi Denis datang ke rumah mengajakku lari pagi. Atau kalau sedang menang basket di traktir makan. Denis memang baik anaknya.

“Rez, Kak Raka kapan pulang sih aku kangen nih?”, tanya Rasti sambil mendrible bolanya di lapangan. Aku hanya menggeleng. “Males ngomongin Kak Raka. Paling- paling pulang bawa Brenet lagi, belum lagi bahasanya yang dari Planet pluto itu aku kagak ngerti. Aya’ aya’ wae si Brenett itu”, jawabku melihat kedatangan Denis yang sedang memarkir Suzuki Swiftnya.

“Brenett?siapa?”, tanya Melan dan Rasti. “Masa aku belum cerita tentang pacarnya Kak Raka yang dari Jerman itu?”, keluhku. Mereka hanya menggeleng pasrah. Pasrah karena idolanya, idola kita sudah punya pacar. “Brenett siapanya Kak Raka sih Rez?”, tanya Aya yang masih belum ngerti. “Pulang saja yuk”, ajakku.

Denis berlari kecil ke arahku. “Rez, kok sudah pulang?besok jam 8 aku ajak jalan ya? Bye”, cepat dan tanpa menunggu jawabanku. Oh ya, sudah tiga bulan ini Melan jadian dengan Rui, penembakannya saat ada pensi tahunan di sekolah dan Rui menjadi vokalis band. Aku yang sedang patah hati jadi iri melihatnya.

Besoknya Denis datang dengan motor paling butut yang pernah aku lihat. Jalannya saja paling banter juga 40km/jam. Dia mengajakku keliling Bandung, melihat pameran celana jeans impor dari beberapa perancang luar negeri di Paris pan Java, mendengarkan pemain biola jalanan di Dago sambil duduk makan es krim. Denis memang teman yang baik dan mengerti aku. Mengerti juga bahwa sebenarnya aku masih suka dengan Djawa. Dia selalu memberi support aku untuk melupakan hal yang buruk. Hingga kelulusanku tiba dan keberangkatanku ke Perancis mengambil jurusan Desain Grafis. Denis orang kedua yang menangis saat kepergianku, selain bunda.

 

^-^

Pagi yang cerah di saat musim dingin seperti ini langka sekali. Hampir setiap pagi dimusim dingin, salju menumpuk di depan rumah adalah pemandangan harian. Tapi hari ini tidak ada lagi tumpukan salju dan udara yang seperti di dalam fresher ikan. Walaupun udara tidak sehangat musim panas, tapi baik juga untuk mengawali setumpuk kegiatanku yang membosankan.

Setelah mengenakan tank top putih yang dibalut dengan jaket tuxedo dan tidak lupa dengan jeans hipster yang ketat karena badanku yang kurus tinggi, aku menggaet sepatu kets yang kubeli waktu aku pertama kali masuk universitas ( 2 tahun yang lalu ). Sambil makan Tortilla panggang aku mengenakan sepatu bututku.

“Buat kuliahnya Mr.George disuruh membuat makalah tentang Statistik, beres. Buat Mr. Khmer tentang aritmatikanya, beres. Hasil lemburku tadi malam, beres”, telitiku.

Pagi ini aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Rugi sekali tidak memanfaatkan cuaca secerah hari ini. Biasanya aku lebih memilih naik bus atau memakai sepatu roda. Dengan jalan kaki aku bisa menikmati udara segar dan kebetulan ini masih cukup pagi daripada biasanya aku berangkat. Aku juga bisa mengecek makalah-makalah dan tugasku untuk beberapa mata kuliahku hari ini sambil jalan kaki.

“ Mr. Tang…..apa kabar ? Pagi sekali kedainya sudah buka”, sapaku.

“Irez…..mampir dulu kesini….masih pagi”, sapa Mr Tang sambil menata kursi.

“ Pulang nanti sajalah…saya ada kuliah pagi ini”, jawabku singkat.

Mr. Tang adalah tetangga sebelahku. Dia menjual mie dan setiap sore aku pasti makan mienya. Kadang aku sendiri merasa bosan, tapi aku juga malas untuk mencari makan di tempat lain. Karena daerah ini jarang ada kedai atau warung yang menjual makanan.

Setiap pagi makan tortilla panggang dan segelas susu. Siangnya makan di kantor tempat aku bekerja dengan nasi kotak. Dan malamnya makan mie di kedai Mr. Tang. Dan jadwalku selalu sama, tetapi akhir-akhir ini aku membantu istri Mr. Tang untuk merangkai bunga. Kadang aku juga mengantarkan ke toko bunga.

Saat awal mulai aku bekerja, semester ke 2 aku di Paris. Aku bekerja paruh waktu di perusahaan jam tangan. Hidup itu sulit kalau dipikirkan hari ini, tetapi kalau ingat- ingat yang kemarin itu menyenangkan. Saat menyenangkan saat masih bisa bermain – main dengan Melan, Rasti dan Aya. Denis yang baik. Dan juga Djawa yang selalu membuat aku senam jantung saat melihatnya, meski pada akhirnya menyakitiku. Aku menyukainya. Nantinya kalau aku sudah tua dan menjadi nenek- nenek bersama seorang lelaki biasa, duduk di beranda dengan rumah gaya Solo, memakai batik dan kebaya, mengingat saat- saat di Paris adalah sejuta kenangan sambil makan pisang goreng. Ehm... entah nantinya cinta ini milik siapa??

 

____selesai____

More aboutAlunan Lagu Kehidupan

Tiada Hati, Ginjal Pun Jadi

Posting by : Ongki sang jagoan blog on Minggu, 31 Januari 2010

By : ????

Sinar mentari muncul dari ufuk timur, terdengar suara ayam jago berkokok. Suara mobil dan riuh ramai orang-orang berangkat ke pasar tak mau kalah dengan suara ayam jago. Di dalam sebuah kamar kecil disuatu rumah terlihat seorang gadis sedang tertidur, tiba-tiba terdengar ada yang mengetok pintu sambil memanggil-manggil namanya.

“ Ezra, bangun sayang sudah pagi nih!! kamu harus sekolah khan ?Ayo cepet bangun.” suara mama Ezra membangunkan Ezra dari mimpi indahnya.

“ Ya Ma, sebentar lagi Ezra bangun masih ngantuk nih." kata Ezra menolak.

“ Kamu harus sekolah khan, nanti Oriz keburu datang lho." kata mama Ezra.

" Ya. Ma, Ezra bangun nih." kata Ezra sambil dengan bangun dari tempat tidurnya.

Setelah siap Ezra kemudian keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan. Di ruang makan terlihat mama dan papa Ezra sudah siap menyantap hidangan yang ada di meja. Kemudian Ezra duduk di kursi yang kosong. Setelah selesai menyantap hidangan sarapan, Ezra menunggu temannya yaitu Oriz temen sekelasnya di SMA sekaligus tetangganya. Setiap hari Ezra dan Oriz berangkat bersama. Mereka berdua bersahabat dekat sejak dari SMP. Dari luar rumah terdengar suara motornya Oriz, akhirnya Oriz datang juga. Ezra segera keluar rumah dan segera berangkat ke sekolah.

Terdengar suara bel dari sebuah SMA Negeri di pinggir kota, yang menandakan waktu masuk kelas dan dimulainya pelajaran pertama. Ezra dan Oriz duduk tenang sembari menunggu guru datang. Pelajaran hari ini berjalan seperti hari-hari biasa. Waktu istirahat tiba murid-murid berhamburan keluar menuju kantin dan tempat-tempat yang mereka sukai. Terlihat Ezra mondar-mandir kebingungan, melihat tingkah aneh Ezra, Oriz menghampiri Ezra.

" Ada apa Zra kamu kok mondar-mandir kayak kebingungan gitu ?." tanya Oriz.

" Riz, ada sedikit masalah nanti pulang sekolah aku mau ngomong sebentar sama Tristan ya, kamu tunggu aku ya." kata Ezra.

" Kamu mau ketemu sama Tristan ? kamu kan gak boleh ketemu sama Tristan, mama kamu kalo sampe tau bisa gawat Zra." kata Oriz.

" Jangan sampai mama tau, kamu jangan bilang sama mama ya, Please!!." Ezra memohon sama Oriz.

" Iya deh, aku gak akan kasih tau mama kamu tapi jangan lama-lama ya aku hari ini ada les." kata Oriz.

" Makasih ya Riz, kamu memang teman baikku." kata Ezra dengan merayu.

" Tapi Zra aku bingung deh ma kamu. Sebenarnya ada hubungan apa sih kamu sama Tristan, temen bukan pacar bukan. Kalau teman kalian itu dekat banget setiap hari ketemu, tapi kalau pacar khan gak mungkin kamu khan udah punya pacar di Jakarta." kata Oriz kebingungan.

" Aku sama Tristan itu cuma sahabatan Riz, kamu jangan pikir macam-macam ya." kata Ezra.

Bel tanda pelajaran usai berbunyi, murid-murid berhamburan keluar untuk pulang. Oriz masih duduk di bangkunya , dia lihat bangku Ezra sudah kosong, mungkin Ezra sudah pergi menemui Tristan.

Dibelakang kelas terlihat Ezra dan Tristan duduk berdua bagai sepasang kekasih, tapi mereka bukan sepasang kekasih. Mereka kelihatan sedang bebicara serius.

" Zra, aku mau curhat nih ma kamu, ini masalah yang selama ini aku pendam dan aku pingin ngomong sama seseorang supaya dapat mengurangi sakitku." kata Tristan.

" Emang kamu ada masalah apa Tan, kok kayaknya serius banget.' kata Ezra.

" Zra, sebenarnya aku punya penyakit gagal ginjal dan akhir-akhir ini penyakitku tambah parah." kata Tristan.

" Apa Tan, kamu bercanda ya. Kamu punya penyakit gagal ginjal, kenapa kamu gak bilang sama aku Tan, kita udah sahabatan cukup lama, setiap waktu kita lalui bersama. Setiap aku ada masalah aku selalu cerita sama kamu dan sekarang kamu baru bilang kalo kamu punya penyakit separah itu." kata Ezra sambil meneteskan air mata.

" Maafin aku Zra, tapi aku gak mau semua orang mengkhawatirkan aku dan mereka sedih melihat keadaanku. Aku mau ngomong jujur sama kamu Zra. Sejak kamu datang dalam hari-hariku entah kenapa rasa sakit yang selama ini aku rasakan menghilang dan aku tahu ini salah tapi aku sangat mencintaimu." kata Tristan sambil kesakitan menahan rasa sakit akibat penyakitnya.

Serentak Ezra berdiri dari tempat duduknya dan dia meneteskan air mata.

" Tan, kita ini sahabat. Aku menganggap kamu itu sahabatku yang terbaik. Aku gak menyangka kamu akan mengucapkan ini sama aku. Aku kecewa sama kamu Tan. Aku kecewa banget, ma kamu …." kata Ezra sambil berlari pergi meninggalkan Tristan.

Sambil menahan rasa sakit Tristan mencoba untuk berdiri dan mengejar Ezra. Tristanpun tersungkur ke bawah dan terus memegangi perutnya.

Ketika sampai di dalam kelas Ezra menangis tak henti-hentinya. Melihat hal itu Oriz mendekatinya dan menanyakan kejadian apa yang terjadi. Ezrapun menceritakan semua kejadian yang tadi dia alami.

" Sudahlah Zra kamu yang sabar ya. Ini semua ujian dari Allah buat kamu." kata Oriz.

" Tapi aku harus gimana Riz? Tristan suka sama aku padahal aku sudah punya Andes yang sebentar lagi aku sama Andes akan tunangan, tapi jika aku menolak Tristan gak mungkin Riz, Tristan punya penyakit yang cukup parah, aku gak tega buat meninggalkannya." kata Ezra.

" Aku juga bingung Zra, maaf aku gak bisa kasih saran sama kamu, tapi kamu harus yakin sama kata hatimu saja." kata Oriz.

Sampai di rumah Ezra langsung masuk ke rumah tiba-tiba mama Ezra memanggil Ezra.

" Ezra, sini sayang mama mau kasih kejutan sama kamu." kata mama Ezra.

" Kejutan apa sih ma, Ezra capek nih mau istirahat." kata Ezra.

" Lihat tu siapa yang ada di ruang keluarga." kata mama Ezra.

" Siapa sih ma?" tanya Ezra penasaran.

Sesampainya di ruang keluarga betapa kagetnya Ezra melihat seorang yang duduk di sofa, orang yang tidak asing lagi, orang yang sangat ia rindukan.

" Kak Andes ……" kata Ezra dengan memaku ditempat ia berdiri.

" Surprise!!! Apa kabar sayang?" kata Ezra dengan wajah kebingungan.

" Aku sengaja menyelesaikan skripsi lebih awal agar bisa segera ketemu sama kamu." kata Andes sambil duduk.

" Tapi kak." kata-kata Ezra dipotong oleh Andes.

" Emang kenapa sayang? Kamu gak senang ya aku datang kemari?" kata Andes.

" Gak gitu kak, tapi aku kaget aja kakak tiba-tiba datang gak kasih kabar sama aku." kata Ezra.

" Aku maksa sama mama datang kesini, kita mau bicarakan rencana pertunangan kita." kata Andes.

Betapa kagetnya Ezra mendengar pernyataan Andes itu. Hati Ezra makin bergejolak bagai ombak yang berdesir di pantai. Tiba-tiba terdengar bunyi Hp Ezra dari dalam tas. Ezra kemudian menerima telpon dari Hp-nya.

" Halo, Assalamu'alaikum." Ezra terdiam mendengar suara dari seberang dan muka Ezra kelihatan panik dan sedih.

" Apa, Tristan masuk rumah sakit, ya aku akan segera kesana." kata Ezra dengan keras hingga Andes bingung mendengarnya.

" Ada apa sayang ? siapa itu Tristan ? apa yang terjadi sama dia ?" tanya Andes kebingungan.

" Nanti saja aku ceritakan di rumah sakit ya kak." kata Ezra sambil mengajak Andes pergi ke rumah sakit.

Sesampainya di RS Ezra segera mencari kamarnya Tristan. Di depan kamarnya Tristan terlihat mama dan papanya Tristan dan kakak perempuanya Tristan yang tadi menghubunginya.

" Kak, gimana keadaan Tristan ?" tanya Ezra kepada kakaknya Tristan.

" Keadaannya kritis, kata dokter dia harus segera transplantasi ginjal namun sampai sekarang tidak ada ginjal yang cocok buat dia." kata kakaknya Tristan.

Ezra langsung tersungkur ke bawah. Andes kemudian menenangkan Ezra.

" Sayang, sudahlah jangan bersedih, Tristan pasti baik-baik aja." kata Andes yang tadi sudah tahu cerita tentang Tristan.

" Kak Andes, aku belum ceritakan sesuatu sama kakak tentang Tristan. Tadi siang Tristan bilang sama aku kalo dia mencintaiku, tapi aku menolaknya hingga dia menjadi sakit seperti ini." kata Ezra sambil menangis menyesali kejadian tadi siang.

Tiba-tiba kakaknya Tristan menghampiri Ezra dan Andes.

" Ezra , maaf jika mengganggu, sejak tidak sadarkan diri terus mengigau nama kamu. Oleh karena itu, aku mencari nama kamu di Hp-nya dan aku menyuruh kamu datang kemari. Mengkin yang bisa menyembuhkan Tristan hanya kamu Zra. Aku mohon sembuhkan Tristan." kata kakaknya Tristan sambil memohon kepada Ezra.

" Aku gak bisa menyembuhkan Tristan kak, aku bukan Tuhan yang bisa menyembuhkan orang." kata Ezra sedih.

Ezra kemudian minta izin untuk bicara berdua dengan Andes.

" Kak Andes, aku mau minta izin, Tristan adalah sahabat baikku, dia butuh donor ginjal, aku ingin sekali mendonorkan ginjalku padanya karena aku merasa bersalah gak bisa membalas cintanya. Kak aku mohon izinkan aku mendonorkan ginjalku ya." kata Ezra sambil menangis.

" Meski aku sangat cemburu mendengar dia mencintai kamu, tapi betapa berdosanya aku jika aku melarangmu menolong nyawa orang lain apalagi dia adalah sahabatmu." kata Andes dengan bijaksana.

" Makasih kak, aku sangat bangga dapat menjadi kekasih kakak." kata Ezra dengan gembira.

Kemudian Ezra menemui kakaknya Tristan dan mengatakan tujuannya untuk mendonorkan ginjalnya kepada Tristan. Lalu Ezra diperiksa oleh dokter untuk melihat apakah ginjalnya cocok untuk Tristan. Ternyata setelah diperiksa oleh dokter, ginjal Ezra cocok untuk Tristan. Namun Ezra tidak bisa langsung mendonorkan ginjalnya, besok operasi transplantasi ginjal akan dilakukan.

Akhirnya operasipun tiba, hati Ezra berdebar sangat kencang, ia sangat gugup saat ini namun semua keluarga berkumpul di RS untuk mendukung Ezra. Operasipun berjalan dengan menegangkan. Andes dan keluarganya serta keluarga Tristan menunggu dengan cemas. Pintu operasipun terbuka, dokterpun keluar dari ruang operasi. Dokter mengatakan operasi berjalan dengan lancar dan sukses. Semua keluarga yang menunggu operasi merasa lega dan gembira operasi bisa berjalan dengan lancar.

Seminggu setelah operasi Tristan sudah membaik, namun dia belum tahu bahwa yang mendonorkan ginjalnya adalah Ezra. Keadaan Ezrapun baik dan dia bersama Andes menjenguk Tristan di RS. Melihat Ezra dengan Andes wajah Tristan menjadi murung dan cemburu.

" Hai Tan, gimana keadaanmu ? baik-baik aja kan." tanya Ezra.

" Aku baik-baik aja, mau apa kamu datang kemari ?" kata Tristan.

" Aku hanya mo mengucapkan selamat tinggal sama kamu. Aku mau bertunangan dengan kak Andes dan aku harus pergi ke Jakarta dan meneruskan sekolahku disana. Maafkan aku Tan aku tidak bisa memberikan hatiku kepada kamu, tapi aku hanya bisa memberikan ginjalku kepada kamu, selamat tinggal." kata Ezra sambil meninggalkan Tristan.

Betapa kagetnya Tristan mendengar kata-katas Ezra yang ternyata mendonorkan ginjal kepadanya adalah Ezra. Tristan mencoba bangkit dari tempat dia berbaring, namun badannya masih sedikit lemah. Meski hati Tristan sangat sakit melihat cintanya ditolak namun Tristan merasa beruntung dapat memperoleh ginjal dari orang yang sangat dicintainya. Ginjal ini akan terus menemaninya dan akan menjadi bagian dari tubuhnya.

More aboutTiada Hati, Ginjal Pun Jadi

Indahnya Cinta Pertama

Posting by : Ongki sang jagoan blog

By : Yiesy

Derai daun yang menjatuh untuk terakhir kalinya dalam akhir musim gugur yang begitu menyesakkan hati, aku begitu… begitu kangen sekali dengan keluarga dirumah. Keluarga besar hadinoyo, dikampung dengan aroma pedesaan yang kental, para tetanggaku yang dengan senantiasa memanggilku dengan panggilan mbak Andhan. Aku merindukannya, begitu merindukannya…

Peluhku kuhapus sekenanya, aku kembali berseluncur diatas sepatu rodaku sambil mengawasi beberapa konsumen. Sepertinya bakalan aman. Pikiranku masih menerawang saat aku memandang ibu-ibu yang keberatan membawa dua kantong plastik besar berisi sayur dan buah.

“Tugas makalah seni tari reog-ku masih 20%. Hasil wawancara dengan dosen pembimbing sudah kelar tapi aku lupa kemarin tidak aku ketik sekalian. Aransemen lagu, tugas Mr. Alei malah belum aku sentuh sama sekali. Dan yang paling parah adalah tugas membaca di perpustakaan untuk sastra, aku sama sama sekali belum menjejakkan kakiku kesana, mungkin aku juga tidak tahu perpustakaannya dimana…ugh, aku benci perpus”, pikiranku masih melayang-layang.

Brak!crot…

Reflek aku memungut beberapa buku yang terjatuh dengan tergesa-gesa. “Maaf seribu kali”, kataku gugup. Aku terlalu phobia untuk hal yang mendadak seperti ini.

“Fine”, ucapnya kaku. Begonya aku menumpahkan capuchinnonya. Dia berlalu sambil menahan amarah.

+_+

Hari ini benar-benar sudah aku niatin untuk bolos kuliah. Tugas-tugas itu rasanya akan mencekikku jika aku tidak segera menyelesaikannya. Baru saat makan siang aku beranjak dari depan PC-ku. Sambil melemaskan otot-ototku yang mendadak kaku, aku memilih makan di warung masakan padang. Sebenarnya jaraknya lumayan jauh sih dari kos, tapi aku lagi nyidam banget nih.

Lewat di kawasan Ndago begitu ramai. Ugh…panas sekali.

Crot…

“Maaf”, kata orang yang langsung melongok dari kaca mobil Suzuki swift. “seribu kali”, dia meneruskan sambil tersenyum. Senyum itu tiba-tiba menyengat hatiku.

Aku melihatnya dengan getir bercampur sebal setengah mati karena mengotori bajuku dengan Lumpur. Cowok yang kemarin aku tabrak di swalayan ternyata. “Fine”, aku teringat jawabannya.

Terpaksa aku teruskan jalan sepeda miniku, meski ada grundelan. Belum juga aku sampai ditempat, eh…aku lihat cowok itu terkapar dijalan. Bibirnya berdarah dan dia memegangi perutnya sambil menahan sakit sepertinya.

Aku mendekatinya, dia ketakutan. Aku bonceng ke kos dan aku balut lukanya. Entah setan apa yang merasuki aku, biasanya aku paling anti dalam urusan cowok. Tapi kali ini aku kasihan juga ngelihat mukanya yang so sweet begitu. Kayak Olga syahputra ajah.

Satu jam kayak seabad aja nunggu dia mendingan. Akhirnya bisa juga cerita kalau dia dipalakin orang gak nggenah. Aku meminjaminya HP untuk menelpon orang rumah.

“Kenapa manyun gitu?”, tanyanya sambil menatapku. Ugh…please jangan menatapku. Rasanya jantungku mau loncat dari atap gedung.

Aku Cuma bisa menggeleng lemah sambil melihat kearah PC-ku. Berharap aku seorang magician yang bisa menyulap tugasku selesai seketika.

+_+

Senin hari menyebalkan diseluruh dunia. Tugasku benar-benar belum kelar, kali ini terpaksa minjem laptop Mbak Raisya buat nglembur di kampus. Baru juga 10 menit duduk, eh udah ada yang mau nebeng duduk sambil nenteng makanan. Sebelum aku sempat melihatnya, dengan gesit meletakkan punch orange dan sepiring nasi goreng jawa kesukaanku dimeja.

“Kemarin udah ngobrol kesana kemari tapi kita belu kenalan. Egi”, tangannya benar-benar menggenggam tanganku. “Andhan”, sahutku setengah sadar.

Akhirnya dia yang selama ini aku impikan memakai baju zirah dengan kuda putih datang juga. Dari dulu aku percaya dia akan datang, entah itu kapan dan sekarang dia datang membawa secercah senyuman pagi hari sehangat mentari.

­+_+

More aboutIndahnya Cinta Pertama

Mimpi Kecilku

Posting by : Ongki sang jagoan blog on Senin, 25 Januari 2010

By : Chixi

Rintik- rintik kecil dalam suasana pegunungan yang masih kental. Dihadapanku, begitu semampu mataku memandang menyeluruh padang itu, menyebar seperti dedaunan yang menjatuh di musim gugur. Bunga- bunga berbagai warna, satu dua pohon yang menghiasi sekelilingnya. Ehm… ini yang aku mau. Setelah lama aku terlarut dalam pekatnya dunia nyataku. Aku mulai mengenakan jas hujan dan berlari- lari kecil mengelilingi padang itu.

Betapa aku tidak merasa lelah, aku melepas semuanya masalah demi masalah yang kemarin menggelayutiku seakan menghilang satu persatu. Betapa aku mencintai seorang Djawa, aku tidak menghargai ibuku yang begitu menyayangiku, dan problem loading bersama temanku. Saat ini aku tidak memikirkannya. Rasanya otakku begitu bersih saat ini, di dukung suasana yang begitu hangat.

Aku merasa aku sedang berada diantara sebuah padang di Inggris, dekat New Castle. Dalam musim semi yang indah, bersama dengan mekarnya bunga lili dan begonia. Ada juga bunga kecil- kecil yang indah dengan warna yang mencolok seperti merah, kuning dan pink. Dikejauhan terlihat puri kecil yang sepertinya lama tak berpenghuni.

Lelah aku bermain- main dengan alam ini, aku melentangkan tubuhku.

Ahh…!!aku menikmati cahaya matahari yang menghangatkan wajah dan jari- jemariku yang terlentang. Rupanya gerimis sudah berhenti, tergantikan dengan cahaya mintip- mintip dari matahari kecilku.

“Puas, Princes kecilku?”, suaranya begitu tenang. Menghanyutkan rasa lelah dan penat yang ada. Memberi tenaga dalam setiap gelora alunan nadanya.

Aku berpaling kearah hamparan pada tempatku tiduran. Dia penuh dnegan cahaya, matanya memberiku semangat untuk bangkit dari keterpurukan. Badannya tidak gagah tapi tinggi semampai dan cukupan, terlihat membuatku berani menghadapi duniaku.

“Sudah lama menanti rupanya?”, sekali lagi suaranya membuat jantungku berdesir lirih. “Mau bermain bersamaku?”

Aku menggapai tangannya dan kamipun berlarian di tengah padang itu. Memetik sebanyak mungkin bunga. Senyumnya membuatku luluh, hati yang selama ini memikirkan Djawa berubah haluan sudah. Semakin jauh kami bermain, mendekati kastil yang sepi itu. Tapi ternyata disana begitu banyak orang, didalamnya.

Ada pesta rupanya. Dan kami menari sepuas hati kami.

More aboutMimpi Kecilku

Apakah Aku Seorang Muslim?

Posting by : Ongki sang jagoan blog on Kamis, 07 Januari 2010

By : Yae@s Girls

 

Aku Seorang Muslim

Begitu bermaknakah kata itu ?, Atau hanya sebagai tanda saja. Agar tidak dicap komunis ?, Atau cuma sebagai titipan dari orang tua?

Kita bebas untuk memilih. Di dalam hidup ini pasti banyak pilihan, alternatif terbaik atau terburuk sekalipun bukan jaminan kita tidak salah memilih. Saat aku menyadari hidupku, saat ini aku sedang menyeberangi jembatan. Sudah sepertiganya kurasa dan sejauh itu aku terlalu berjalan kepinggir. Hingga ada saatnya aku mulai terperosok, kadang hampir jatuh. Tetapi disaat seperti itulah aku mulai bangkit memperbaiki jalanku. Meski aku takut, takut mati setelah ini, setelah aku mengetik naskah ini dan tiba – tiba malaikat sudah menjemput didepan mata. Padahal aku masih bergelimangan dosa segar yang tadi baru aku lakukan, atau sekarang aku lakukan, atau bisa juga yang kemarin dulu aku lakukan dan belum ada pengampunan untuk itu.

Pilihanku menjadi seorang muslimlah yang menginspire aku agar memikirkan itu. Bukan hanya besok aku ingin melakukan apa saja, tapi pertanggung – jawaban tentang yang akan aku lakukan yang sering aku lewatkan. Muslim adalah pilihan terindahku sejauh ini. Berada pada jalan yang benar membuatku senang, tetapi butuh perjuangan yang lebih keras agar tetap pada jalan yang lurus. Rasa cinta yang seharusnya makin hari makin berkilau tetapi makin surut karena berbagai hal.

Aku ini hanyalah manusia, yang juga rapuh, rentan terhadap apapun yang menimpaku. Hingga rasanya bertahan adalah hal terbesar yang selalu kucoba sekarang ini. Muslim atau bukan aku ingin tunjukkan pada orang lain yang setidaknya menyempatkan waktunya untuk membaca ini, Allah, Tuhanku menyayangi kalian semua yang ada di bumi.

Menjadi muslim adalah hal yang simple secara logika. Dengan mematuhi segala aturan Allah dan menjauhi apa – apa yang dilarangnya, kita dapat kedudukan tertinggi di sisi Allah. Semua perbuatan mendapat pertanggung-jawaban nantinya dan mendapat imbalan yang setimpal juga. Begitu adil agamaku ini.

Hanya karena aku terbawa arus deras globalisasi dan tanpa pondasi yang cukup kuat aku belum bisa menggapai tujuan itu. Tapi insyaallah aku akan terus berusaha.

More aboutApakah Aku Seorang Muslim?